skandal lurah susan

Komentar Gamawan Fauzi Tentang Lurah Susan: Kegagalan SBY Demokrat Part #1

Komentar Gamawan Fauzi Tentang Lurah Susan: Bijakkah?

Payah saat komentar yang gak asik justru keluar dari mulut seorang mendagri. Sebuah komentar yang cukup kontroversial dan tidak bijak jika berpijak pada kebhinekaan Indonesia. Mengenai demonstrasi SARA terhadap Lurah Susan di Lenteng Agung, Gamawan Fauzi malah berkata, “Pak Gubernur tidak salah menempatkan itu, tidak ada undang-undang yang terlanggar. Tapi akan lebih bijak lagi kalo Susan ditempatkan yang di-nonmuslim juga. Artinya aspirasi masyarakat terpenuhi.” Demikian komentar Gamawan Fauzi tentang Lurah Susan sebagaimana dikutip liputan6.com (25/9/2013).

Apakah pernyataan itu bijak? Hehe, tidak bisa jawab dengan kata bijak atau tidak bijak. Karena kata ‘tidak bijak’ belum bisa menggambarkan betapa konyolnya kalimat yang keluar dari seorang mendagri tersebut. Penulis dan pembaca tentu memijak kenyataan bahwa negara kita ini belum berpindah haluan kan? Belum menjadi Indonistan bukan? Tapi mengapa Gamawan begitu ceroboh (atau bodoh?) mengeluarkan kalimat tidak tepat seperti itu?

Kontan saja, kalimat itu mendapatkan balasan dari wagub Basuki. Basuki (dan juga Jokowi) bertahan pada keyakinan tidak adanya alasan untuk memindahkan Lurah Susan, apalagi kalau hanya soal masalah keyakinan. Kalau soal perbedaan keyakinan bisa menjadi alasan untuk seorang pejabat dimutasi, lalu apakah lagi artinya sebuah kebhinekaan? Bukankah SBY yang notabene Muslim juga merupakan pemimpin untuk banyak provinsi non-Muslim? Bukankah banyak bos perusahaan-perusahaan yang non-Muslim juga memimpin pegawai yang kebanyakan Muslim dan begitu sebaliknya? Lalu apakah semua harus bubar? Gila dan konyol!

Jelas Komentar Gamawan Fauzi Tentang Lurah Susan: Bukti Kegagalan SBY Demokrat dalam Memimpin Anak Buah

Kalau telinga dipasang baik-baik, sebenarnya SBY itu sudah dinilai rakyat gagal dalam memimpin. Tidak hanya dinilai lamban dan hanya bisa menghimbau dan tidak tegas, namun beliau juga gagal memimpin kabinet yang seharusnya bermutu. Yang ada, kursi kabinet hanya diisi oleh menteri campur sari tidak berbobot untuk memadu-padankan partai koalisi!