perusahaan yang bangkrut di indonesia

Antara Imlek dan Film Act of Killing: Mimpi Indonesia

Antara Imlek dan Film Act of Killing: Mimpi Indonesia

Sudah nonton film Act of Killing (dalam judul bahasa Indonesia: Jagal)? Kalau belum, nonton gratis di bawah:

Penulis sengaja menyatukan kedua hal yang paling bertolak belakang dalam judul: Imlek dan Film Act of Killing, sebab keduanya memiliki hubungan dengan Mimpi Indonesia. Sebuah mimpi tentang kedaulatan, sebuah mimpi tentang persatuan untuk mencapai kejayaan abadi sebuah tanah yang dinamai Indonesia Raya.

Kebebasan perayaan Imlek di satu sisi merupakan sebuah puncak keber-arti-an makna persatuan negeri ini, sebuah batu loncatan yang mampu diwujudkan Abdurahman Wahid demi saudara sebangsa etnis Tionghoa setelah sekian puluh tahun dilarang Orde Baru. Di sisi lain yang kelam, film Act of Killing justru mempertontonkan masa lalu yang berbau anyir karena indikasi genosida terhadap simpatisan komunis Indonesia pasca Gerakan 30S/PKI. Di mana sebagian dari korban merupakan etnis Tionghoa (diaspora daratan China) saat itu.

film act of killing

Merupakan sesuatu yang memuakkan bagi generasi muda untuk mengetahui sebagian fakta bahwa simpatisan PKI mungkin adalah korban terbesar dari G30S/PKI, setelah sekian lama didoktrin kurikulum pendidikan sebaliknya. Estimasi sekian juta orang mungkin mati sia-sia sementara jutaan lainnya terpinggirkan karena terafiliasi komunisme.

Negara Cina Komunis yang Ikut Campur

Peristiwa tersebut memilukan, namun tentu bukan sebuah pengorbanan yang sia-sia. Komunisme memang adalah suatu ideologi yang lahir dari neraka yang dapat membunuh karakter seluruh bangsa. Seperti kanker, komunis memang harus dipotong sebelum menjalar ke seluruh tubuh nusantara. Tanpa pengorbanan 1965, mungkin sudah terjadi revolusi merah di Indonesia yang memaksa bangsa ini menghirup candu psikopat racikan Karl Marx yang lunatic.