Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

pertanyaan tentang pemilu

Rumus untuk Sukses itu Sederhana: 3Q + Fokus

Rumus untuk Sukses itu Sederhana: 3Q + Fokus

Salam Superrr sahabat-sahabat saya yang besar hatinya. Hehe. Bukan maksud hati, maksud menggurui. Bukan pula bermaksud menggantikan Mario Teguh. Cuma untuk sekali ini, sepertinya saya bermaksud share sedikit lah rumus sederhana untuk sukses yang saya sarikan dari berbagai kesempatan melihat banyak orang besar bicara dan sedikit mencampurkan dengan pengalaman pribadi.

 Rumus untuk Sukses itu Sederhana

Eits, tunggu dulu, sebagai sebuah credential sebelum saya dianggap banyak bicara tanpa dasar: apakah saya sendiri sudah sukses? Hm, saya sih yakin iya, sebab sejauh ini saya sudah memenuhi target diri sendiri. Tentu tidak sesuci ustad-ustad namun setidaknya saya menjalankan integritas selama ini, mencari makan halal dan menikmati spiritualitas. Tentu tidak segaul Justin Bieber, namun saya cukup memiliki network yang membangun hidup dan kehidupan sosial dan keluarga yang tenteram dan aman, plus istri yang cantik. Tentu tidak sepandai Stephen Hawking, tapi bisa pascasarjana lah baik S1 dan S2 di universitas top negeri ini. Tentu tidak sekaya Abu Rizal Bakrie atau Prabowo (yang entah dari mana bos Gerindra ini punya harta sampai triliunan), namun saya bekerja di perusahaan 100 top fortune di bagian strategik dan memiliki usaha juga. Lumayanlah di usia yang masih muda, ehem ehem. *Saya memberikan credential seperti di atas bukan apa-apa, supaya nanti di kotak komen tidak ada yang cuma nulis: ah ngemeng doang loe, melakukan belum. *jedug-jedug… Padahal nulis begini supaya dibaca orang dan siapa tahu membuat orang lain jadi lebih kaya (bukan cuma kaya uang).

Ok the formula is…

Jadi balik ke judul saya menuliskan “3Q + Fokus”. Apa sih 3Q? Hehe, 3Q itu adalah:

  • IQ = Isi otak
  • EQ = Kedewasaan emosi dan mental
  • HoQ = Alias Hoki, Hoki cuma bisa datang dengan kerja keras, pengharapan, dan doa (ada miripnya dengan SQ, tapi lebih luas).

I know that I am intelligent, because I know that I know nothing. (Socrates)

Socrates ingin bilang bukan tentang isi otak saja, tapi seberapa bisa isi otak kamu itu membungkuk-kan badan. Kalau orang Indonesia bilang semakin padi berisi semakin merunduk. Kejar ilmu sampai setinggi langit, belajar-lah sampai ke negeri Cina namun jangan lupa ketika bicara kepada orang lain bicaralah dengan sederhana. Tunjukkan kerendah-hatian intelektual. Berikutnya adalah visi yang terlahir lewat kemampuan intelektual. Milikilah visi dan cita dalam hidup kamu. Buat garis besarnya, lalu detailkan bagaimana caranya kamu bisa menggapai itu. Kalau ingin jadi ekonom besar, siapkan diri kamu untuk itu. Ambil jurusan ekonomi, belajar ekonomi, miliki hobi yang terkait ekonomi. Kalau ingin jadi penyanyi, ya persiapakan diri menjadi penyanyi. IQ tidak selalu berhubungan dengan kemampuan menyelesaikan soal-soal di bangku sekolah. Tapi jauh lebih luas daripada itu. Ia menentukan bagaimana kamu mempersepsikan suatu isu, mengkonsepkan suatu jalan solusi, dan bahkan kemampuan bekerja sama dengan banyak pihak untuk tujuan bersama. Itulah Rumus untuk Sukses itu Sederhana yang pertama.

Anybody can pilot a ship when the sea is calm. (Navjot Singh)

Rumus untuk Sukses itu Sederhana yang kedua adalah EQ. EQ menentukan bagaimana kamu ber-aksi dan bereaksi terhadap sesuatu. Semakin matang mental emosi seseorang, semakin kalem dirinya dalam menanggapi suatu hal yang mungkin sebenarnya menyakitkan. Sebaliknya, buat mereka yang emosi mentalnya masih terlalu muda cenderung gegabah dan reaktif. Itulah kenapa pembuatan SIM tidak diperbolehkan untuk anak kecil karena anak kecil cenderung tidak matang soal emosi. Disalip sedikit, bawa motor langsung ngebut. Kadang tragis menyebabkan kematian.

Pemimpin juga demikian. Pemimpin yang berapi-api dan revolusioner cenderung tidak dewasa dan sebenarnya secara statistik tidak membawa hal positif bagi rakyatnya. Banyak contohnya: Hitler, Stalin, Ahmadinejad, Kim Jong Un dan seterus dan seterusnya. Apakah rakyatnya sejahtera? Tidak. Sebagian malah kelaparan dan membawa bangsanya kepada peperangan. Di Pilpres 2014 ini juga kompetisi kematangan emosional juga terlihat. Lihat bagaimana sikap Jokowi dan Megawati yang tenang dalam menghadapi persoalan justru mengundang simpati, sementara Prabowo yang meletup-letup justru menyembulkan pertanyaan: bagaimana ia bereaksi saat di demo rakyatnya kelak?

Menjadi tetap kalem dan tidak terbawa emosi dalam berbagai situasi bisa dipelajari dengan banyak bergaul dan berorganisasi. Kalau masih muda, gih perbanyak berorganisasi. Semakin banyak momen “mengesalkan” dalam berorganisasi akan membuat ruang hati kamu jadi lebih lebar untuk legowo menghadapi masalah. Apakah EQ kita termasuk dalam level yang OK? Cek paling gampang, saat kamu berkendara, gampang tersinggungkah? Gampang terpancingkah? 

I’m a Great Believer in Luck. The Harder I Work, the More Luck I Have (Thomas Jefferson)

Saya tidak bilang hoki tidak ada. Hoki itu ada. Apakah hoki jatuh dari langit? Ya, terkadang, tapi sedikit sekali jumlahnya. Ada kok caranya menarik lebih banyak hoki ke hidup kita. Thomas Jefferson aja tahu, yap lewat kerja keras. Semakin kerja keras Anda, semakin hoki Anda. Tidak percaya? Saya lebih tidak percaya pada orang yang bilang: ah gue ga sukses karena ga ada hokinya.

Selepas lulus dulu saya langsung bekerja di bank Jepang yang namanya besar. Itu hoki buat saya. Tapi hoki itu tidak sekonyong-konyong datang. Itu salah satu hoki yang saya usahakan. Belajar mati-matian di sekolah untuk kuliah di universitas terbaik. Setelah dapat, melepas ego bersenang-senang di kuliahan. Lulus, lalu apply di beberapa perusahaan. Dan gagal. Saya berpikir bisa jadi karena tidak cocok saja pada 2-3 perusahaan tersebut. Saya putuskan melamar lebih keras lagi, saya apply di lebih dari 50 perusahaan dengan job desc yang saya inginkan. Pikiran saya: masak sih tidak ada yang keterima. Dan benar saja, saya diterima di banyak perusahaan dan yang saya terima ya di bank Jepang itu (well saya sudah pindah juga sekarang).

Dan jangan lupa ya: berdoa yang banyak!

Tapi, jangan lupa satu hal…. tentang F-O-K-U-S

Most … die from indigestion rather than starvation i.e., suffer from doing too many things at the same time rather than doing too few things very well (Naveen Jain)

Nah ini juga penting. Fokus… fokus… fokus…! Sekarang ini zamannya distraksi, terlalu banyak hal yang bikin kita tidak fokus. Seperti kutipan di atas, banyak yang mati justru karena melahap terlalu banyak kesempatan, bukannya fokus terhadap sesuatu. Gen-Y saat ini menghadapi tantang semacam itu. Setelah lulus kuliah banyak sekali kesempatan yang datang. PNS? Kerja di A? di B? di C? atau usaha sendiri? sewa Waralaba? Kejar beasiswa? Kuliah lagi?

Banyak sekali yang akhirnya tidak fokus dan gugur padahal memiliki potensi yang sangat baik. Setahun kerja di industri A dengan role A, lalu tertarik gaji lebih besar di industri B dengan role B, lalu demikian seterusnya, hingga akhirnya sadar bahwa waktu telah terbuang percuma untuk kenaikkan gaji yang sebenarnya tidak sustain. Belakangan baru sadar teman seangkatan yang kerja di industri A dengan role A sekarang tetap di industri yang sama tapi fokus, sudah menjadi seorang spesialis yang dihargai tinggi.

Rumus untuk Sukses itu Sederhana: 4Q + Fokus by nasionalis.me

Data Pindah Agama Indonesia: Ilusi Pemurtadan

Data Pindah Agama Indonesia: Ilusi Pemurtadan

Di Indonesia, ibarat gacoan, agama sudah menjadi seperti itu. Terlepas dari seberapa bisa agama mempengaruhi hidup secara positif yang paling kerasa agama dijadikan seperti panji-panji oleh pemeluknya. Si A pindah agama ke Prostestan, “pendukung” Protestan akan menabuh genderang kebanggaan. Atau si B pindah memeluk Islam, secara tiba-tiba minimal si B akan disorak-sorai oleh yang lainnya. Ya, sudah seperti pertandingan sepak bola saja.

Kebetulan hari Minggu pagi ini saya buka tv nasional dan sepertinya lagi heboh soal kasus pernikahan Asmirandah dan Jonas yang berbeda agama. Tentu saja, melihat dari kultur masyarakat, isu seperti ini akan sangat digoreng oleh media untuk mendapatkan views yang banyak.

Dalam keseharian hal di atas juga jamak sekali didengar. Pemeluk mayoritas sering fobia soal pemurtadan oleh kaum pemeluk minoritas, di lain sisi minoritas juga suka mengklaim / membanggakan bahwa pemeluknya makin banyak. Dulu waktu masih remaja ingusan, saya pernah dengar konsep transformasi Indonesia di mana sebuah denominasi gereja akan yakin akan terjadi pergerakan iman mayoritas rakyat menjadi pemeluk kristen. Klaim berlebihan untuk publisitas demi eksploitasi jemaat.

Saya tidak tahu pasti, namun ada juga teman saya yang Muslim mengatakan bahwa isu pemurtadan juga menjadi bahan eksploitasi untuk mendapatkan legimitasi dari jamaah. Isu tersebut tentu renyah untuk digoreng para politisi tentunya untuk mendapatkan legitimasi politik dari konstituen Muslim.

Data Pindah Agama Indonesia: Fakta Bertolak Belakang

Hanya saja, faktanya agak berbeda di lapangan. Banyak permurtadan? Banyak orang beralih ke kekristenan? Hm, ternyata toh sensus 2010 masih menunjukkan mayoritas pemeluk Islam masih pada persentase yang tetap di angka 87.2%. So, pasti ada yang “bau amis” dengan fobia pemurtadan atau fasisme kekristenan. Jangan-jangan, kedua isu tersebut memang dieksploitasi oleh para oknum pemuka agama masing-masing entah untuk apa.

Lihat Data Pindah Agama Indonesia berikut yang dikatakan berasal dari Sensus Kementerian Agama 2013. Lihat pada jumlah berapa yang masuk Islam dan berapa yang masuk Kristen (Prostestan / Katolik). Pada kenyataannya, mereka yang menjadi mualaf lebih banyak dari total mereka yang masuk Kristen. Bahkan sebagian besar dari mereka yang baru memeluk Islam adalah mereka yang berasal dari Prostestan atau Katolik. Sedangkan untuk mereka yang pindah ke Prostestan terbanyak adalah pemeluk Katolik sebelumnya, dan sebaliknya.

data pindah agama indonesia

Poin pentingnya, ternyata eksploitasi pola pikir bisa juga terjadi pada figur-figur yang kita percayai. Terkadang kita perlu kritis apalagi menjelang Pemilu 2014 seperti sekarang ini. Akan banyak sekali orang politik yang mencari suara dengan menyebarkan ketakutan akan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Juga, akan banyak sekali orang politik yang mencari dukungan dengan menyebarkan impian kosong yang sebenarnya tidak akan pernah berjalan.

Data Pindah Agama Indonesia: Ilusi Pemurtadan by nasionalis.me

Ini Jadwal & Daftar Partai Politik Peserta Pemilu 2014, Siapkan Pilihanmu

Update: Jadwal & Daftar Partai Politik Peserta Pemilu 2014

Jangan mangkir lagi di Pemilu dan Pilpres 2014. Ayo menggunakan hak politik kamu untuk bersama-sama merubah nasib bangsa yang selama 10 tahun ini sudah disia-siakan. Ingat, salah pilih di 2014, kamu tidak bisa mengkoreksinya sampai 5 tahun berikutnya. Jangan salah pilih mereka yang suka pakai money politics, jangan pilih yang suka kampanye hitam, jangan pilih mereka yang tega menjual isu agama dan SARA, jangan pilih mereka yang tidak konsisten dan lambat, jangan pilih mereka yang hanya berambisi kekuasaan demi jaringan bisnisnya, dan jangan pilih mereka yang siang malam membanjiri televisi dengan iklan namun jelas-jelas tidak punya kepedulian sosial. Read more

Skeptisme & Keanehan pada Kasus Sisca Yofie

Kasus Sisca Yofie walaupun agak lari dari track politik namun ini menyangkut dengan keinginan masyarakat banyak agar kejadian yang sesungguhnya bisa diungkap. Sejauh ini, ada update tentang dua orang pelaku yang mengaku sebagai penyebab kematian pada kasus Sisca Yofie.

kasus sisca yofie

Kasus Sisca Yofie Terkait dengan Perwira Polisi?

Lebih uniknya dari kasus Sisca Yofie ini adalah adanya selentingan terkait hubungan pribadinya dengan seorang Perwira Polisi. Agak lebih jauh lagi, sebagian masyarakat yang mengikuti kasus ini sudah seakan membentuk opini bahwa terbunuhnya Sisca Yofie pasti terkait sang perwira. Begitukah?

Tentu saja kepastian tidak akan pernah benar-benar di dapat terkecuali berdasarkan barang bukti dan kesaksian. Hanya saja, barang bukti dan kesaksian tersebut juga sewajarnyalah sejalan dengan alur logika dan motif yang jelas. Namun, harus diingat juga, bahwa adanya motif tidak serta merta menjadikan seorang / satu pihak menjadi tersangka. Jadi tentu saja, sang perwira polisi, A, dan W, tanpa barang bukti yang jelas tidak boleh sekonyong-konyong dijadikan kambing hitam.

Walau bukan lawyer, bukan ahli hukum, dan bukan ahli forensik, sewajarnyalah di era keterbukaan ini kita wajib mengawasi setiap kasus hukum di negara ini, termasuk pada kasus Sisca Yofie. Paling tidak masyarakat memiliki keunggulan dalam dua hal: objektifitas dan common sense, walau minim bukti.

Fokus: Common Sense Motif Penjambretan pada Kasus Sisca Yofie?

Rangkuman pelbagai pemberitaan:

A dan W setelah menyerahkan diri mengaku bahwa sebenarnya mereka berupaya menjambret tas Sisca Yofie yang ada di mobil berpintu terbuka langsung di depan indekos. Namun, Sisca kemudian berupaya melawan sedemikian rupa sehingga Sisca terjatuh dengan rambut tersangkut di ban motor yang menyebabkan dirinya terseret hingga 500m – 1000m, sebagian pemberitaan menyatakan dengan kecepatan hingga 70 km/jam. Setelah kemudian sadar di 500m / 1 km, barulah pelaku memotong rambut korban dari gir. Hingga akhirnya para pelaku membuang barang bukti termasuk hasil curian, iPhone Sisca juga dibuang. Terakhir, ada pemberitaan bahwa ada seorang teman Sisca yang mengaku dihubungi korban sebelum kejadian di mana korban menyatakan dikuntit oleh 2 orang semenjak dari kantor.

Beberapa kejanggalan yang mesti dirunut oleh tim penyidik Polisi:

  1. Dari modus, baik penjambretan (atau pun memang pembunuhan terencana) mungkin mesti dipastikan apakah memang direncanakan jauh sebelumnya? Sebab kejadian terjadi kabarnya sekitar pukul 18.30 di mana pastinya pelaku sengaja mencari momen di saat orang buka puasa.
  2. Kemudian, mengincar korban jambretan sebuah pintu mobil terbuka rasanya kurang wajar apalagi di kawasan yang sepi dari mangsa. Untuk mendapatkan momen pintu terbuka saja probabilitanya sudah kecil, apalagi ditambah untuk menemukan mobil berpintu terbuka dengan barang yang tertinggal di dalamnya.
  3. Sisca sudah merasa dikuntit sejak dari kantor, berbeda dengan pengakuan pelaku yang memang tiba tiba merencanakan penjambretan di dekat TKP. Mungkin polisi mesti mengecek CCTV jalur pulang Sisca untuk mengkonfirmasi pengakuan A dan W. Jarak dari kantor Sisca Yofie di Jl. Pungkur 217A ke tempat kosnya di Cipedes +/- 6km. Kemungkinan besar jalur yang dipergunakan: Pungkur-Pasir Koja-Anyar-Astana-Gardu Jati-Pasir Kaliki-Sukajadi-Sukagalih-Cipedes. Jalur tersebut pasti ada ada kamera kamera CCTV yang mengarah ke jalan. Kalau memang pengakuan teman Sisca benar, seharusnya bisa teridentifikasi dua orang naik motor penguntit tersebut.
  4. Pelaku menyatakan bahwa rambut Sisca tersangkut di gir motor. Menurut logika awam sebenarnya ini sulit dibayangkan. Apabila memang rambut tersangkut di gir motor, kemungkinan besar putarannya akan menghisap kepala Sisca dan merusaknya habis-habisan sehingga tersangkut di motor dan menghentikan motor. Agak sulit untuk sampai 500 meter tetap melaju, mungkin 20 meter saja sudah berhenti.
  5. Taruhlah rambut sekuat baja tersangkut dan kepala tidak tersedot ke putaran, apakah mudah untuk kedua pelaku tidak menyadari membawa beban tambahan terseret seberat 45-50kg dengan jalan yang pastinya tidak rata dan kemungkinan korban yang masih bisa bersuara? Apakah butuh sekian ratus meter baru sadar?
  6. Apalagi ada warga dan CCTV yang melihat posisi seorang wanita diseret dan dijambak? Di CCTV juga pelaku agak oleng berusaha mengendalikan motornya yang mana menunjukkan bahwa mereka mungkin sadar sedang “menyeret” sesuatu.
  7. Kejanggalan tambahan adalah adanya iPhone yang dibuang oleh pelaku di mana pada mulanya mereka memang mengincar iPhone. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan di iPhone?
  8. Terakhir kejanggalan moralitas. Penjambret dan Perampok berbeda dengan pembunuh bayaran. Mereka bertujuan untuk memperkaya diri, hit & run, lalu menikmati jarahannya dengan tenang. Penjambret akan meminimalisir melukai korban apalagi sampai penyeretan sadis yang menyebabkan korban jiwa.

Sekarang bola panas memang ada di tangan Polda Jabar untuk mengungkap kasus ini secara transparan. Kewajiban masyarakat untuk peduli dan mengawasi dan komplain kalau ada yang terasa janggal. Namun mesti kita sadari bahwa polisi tidak bisa apa-apa kalau memang bukti dan kesaksian menunjukkan hal sebaliknya. Kita cuma bisa berharap polisi transparan akuntable dan bersedia skeptis dengan segala pengakuan yang berlawanan dengan akal sehat, dan jangan mengkambinghitamkan satu pihak sebelum ada bukti kuat. Juga jangan mudah percaya pada apa pun, karena kebenaran biasanya rasional dan sejalan dengan alur logika dan motif. Stay Sceptical!