pertanyaan tentang pemilu

Rumus untuk Sukses itu Sederhana: 3Q + Fokus

Rumus untuk Sukses itu Sederhana: 3Q + Fokus

Salam Superrr sahabat-sahabat saya yang besar hatinya. Hehe. Bukan maksud hati, maksud menggurui. Bukan pula bermaksud menggantikan Mario Teguh. Cuma untuk sekali ini, sepertinya saya bermaksud share sedikit lah rumus sederhana untuk sukses yang saya sarikan dari berbagai kesempatan melihat banyak orang besar bicara dan sedikit mencampurkan dengan pengalaman pribadi.

 Rumus untuk Sukses itu Sederhana

Eits, tunggu dulu, sebagai sebuah credential sebelum saya dianggap banyak bicara tanpa dasar: apakah saya sendiri sudah sukses? Hm, saya sih yakin iya, sebab sejauh ini saya sudah memenuhi target diri sendiri. Tentu tidak sesuci ustad-ustad namun setidaknya saya menjalankan integritas selama ini, mencari makan halal dan menikmati spiritualitas. Tentu tidak segaul Justin Bieber, namun saya cukup memiliki network yang membangun hidup dan kehidupan sosial dan keluarga yang tenteram dan aman, plus istri yang cantik. Tentu tidak sepandai Stephen Hawking, tapi bisa pascasarjana lah baik S1 dan S2 di universitas top negeri ini. Tentu tidak sekaya Abu Rizal Bakrie atau Prabowo (yang entah dari mana bos Gerindra ini punya harta sampai triliunan), namun saya bekerja di perusahaan 100 top fortune di bagian strategik dan memiliki usaha juga. Lumayanlah di usia yang masih muda, ehem ehem. *Saya memberikan credential seperti di atas bukan apa-apa, supaya nanti di kotak komen tidak ada yang cuma nulis: ah ngemeng doang loe, melakukan belum. *jedug-jedug… Padahal nulis begini supaya dibaca orang dan siapa tahu membuat orang lain jadi lebih kaya (bukan cuma kaya uang).

Ok the formula is…

Jadi balik ke judul saya menuliskan “3Q + Fokus”. Apa sih 3Q? Hehe, 3Q itu adalah:

  • IQ = Isi otak
  • EQ = Kedewasaan emosi dan mental
  • HoQ = Alias Hoki, Hoki cuma bisa datang dengan kerja keras, pengharapan, dan doa (ada miripnya dengan SQ, tapi lebih luas).

I know that I am intelligent, because I know that I know nothing. (Socrates)

Socrates ingin bilang bukan tentang isi otak saja, tapi seberapa bisa isi otak kamu itu membungkuk-kan badan. Kalau orang Indonesia bilang semakin padi berisi semakin merunduk. Kejar ilmu sampai setinggi langit, belajar-lah sampai ke negeri Cina namun jangan lupa ketika bicara kepada orang lain bicaralah dengan sederhana. Tunjukkan kerendah-hatian intelektual. Berikutnya adalah visi yang terlahir lewat kemampuan intelektual. Milikilah visi dan cita dalam hidup kamu. Buat garis besarnya, lalu detailkan bagaimana caranya kamu bisa menggapai itu. Kalau ingin jadi ekonom besar, siapkan diri kamu untuk itu. Ambil jurusan ekonomi, belajar ekonomi, miliki hobi yang terkait ekonomi. Kalau ingin jadi penyanyi, ya persiapakan diri menjadi penyanyi. IQ tidak selalu berhubungan dengan kemampuan menyelesaikan soal-soal di bangku sekolah. Tapi jauh lebih luas daripada itu. Ia menentukan bagaimana kamu mempersepsikan suatu isu, mengkonsepkan suatu jalan solusi, dan bahkan kemampuan bekerja sama dengan banyak pihak untuk tujuan bersama. Itulah Rumus untuk Sukses itu Sederhana yang pertama.

Anybody can pilot a ship when the sea is calm. (Navjot Singh)

Rumus untuk Sukses itu Sederhana yang kedua adalah EQ. EQ menentukan bagaimana kamu ber-aksi dan bereaksi terhadap sesuatu. Semakin matang mental emosi seseorang, semakin kalem dirinya dalam menanggapi suatu hal yang mungkin sebenarnya menyakitkan. Sebaliknya, buat mereka yang emosi mentalnya masih terlalu muda cenderung gegabah dan reaktif. Itulah kenapa pembuatan SIM tidak diperbolehkan untuk anak kecil karena anak kecil cenderung tidak matang soal emosi. Disalip sedikit, bawa motor langsung ngebut. Kadang tragis menyebabkan kematian.

Pemimpin juga demikian. Pemimpin yang berapi-api dan revolusioner cenderung tidak dewasa dan sebenarnya secara statistik tidak membawa hal positif bagi rakyatnya. Banyak contohnya: Hitler, Stalin, Ahmadinejad, Kim Jong Un dan seterus dan seterusnya. Apakah rakyatnya sejahtera? Tidak. Sebagian malah kelaparan dan membawa bangsanya kepada peperangan. Di Pilpres 2014 ini juga kompetisi kematangan emosional juga terlihat. Lihat bagaimana sikap Jokowi dan Megawati yang tenang dalam menghadapi persoalan justru mengundang simpati, sementara Prabowo yang meletup-letup justru menyembulkan pertanyaan: bagaimana ia bereaksi saat di demo rakyatnya kelak?

Menjadi tetap kalem dan tidak terbawa emosi dalam berbagai situasi bisa dipelajari dengan banyak bergaul dan berorganisasi. Kalau masih muda, gih perbanyak berorganisasi. Semakin banyak momen “mengesalkan” dalam berorganisasi akan membuat ruang hati kamu jadi lebih lebar untuk legowo menghadapi masalah. Apakah EQ kita termasuk dalam level yang OK? Cek paling gampang, saat kamu berkendara, gampang tersinggungkah? Gampang terpancingkah? 

I’m a Great Believer in Luck. The Harder I Work, the More Luck I Have (Thomas Jefferson)

Saya tidak bilang hoki tidak ada. Hoki itu ada. Apakah hoki jatuh dari langit? Ya, terkadang, tapi sedikit sekali jumlahnya. Ada kok caranya menarik lebih banyak hoki ke hidup kita. Thomas Jefferson aja tahu, yap lewat kerja keras. Semakin kerja keras Anda, semakin hoki Anda. Tidak percaya? Saya lebih tidak percaya pada orang yang bilang: ah gue ga sukses karena ga ada hokinya.

Selepas lulus dulu saya langsung bekerja di bank Jepang yang namanya besar. Itu hoki buat saya. Tapi hoki itu tidak sekonyong-konyong datang. Itu salah satu hoki yang saya usahakan. Belajar mati-matian di sekolah untuk kuliah di universitas terbaik. Setelah dapat, melepas ego bersenang-senang di kuliahan. Lulus, lalu apply di beberapa perusahaan. Dan gagal. Saya berpikir bisa jadi karena tidak cocok saja pada 2-3 perusahaan tersebut. Saya putuskan melamar lebih keras lagi, saya apply di lebih dari 50 perusahaan dengan job desc yang saya inginkan. Pikiran saya: masak sih tidak ada yang keterima. Dan benar saja, saya diterima di banyak perusahaan dan yang saya terima ya di bank Jepang itu (well saya sudah pindah juga sekarang).

Dan jangan lupa ya: berdoa yang banyak!

Tapi, jangan lupa satu hal…. tentang F-O-K-U-S

Most … die from indigestion rather than starvation i.e., suffer from doing too many things at the same time rather than doing too few things very well (Naveen Jain)

Nah ini juga penting. Fokus… fokus… fokus…! Sekarang ini zamannya distraksi, terlalu banyak hal yang bikin kita tidak fokus. Seperti kutipan di atas, banyak yang mati justru karena melahap terlalu banyak kesempatan, bukannya fokus terhadap sesuatu. Gen-Y saat ini menghadapi tantang semacam itu. Setelah lulus kuliah banyak sekali kesempatan yang datang. PNS? Kerja di A? di B? di C? atau usaha sendiri? sewa Waralaba? Kejar beasiswa? Kuliah lagi?

Banyak sekali yang akhirnya tidak fokus dan gugur padahal memiliki potensi yang sangat baik. Setahun kerja di industri A dengan role A, lalu tertarik gaji lebih besar di industri B dengan role B, lalu demikian seterusnya, hingga akhirnya sadar bahwa waktu telah terbuang percuma untuk kenaikkan gaji yang sebenarnya tidak sustain. Belakangan baru sadar teman seangkatan yang kerja di industri A dengan role A sekarang tetap di industri yang sama tapi fokus, sudah menjadi seorang spesialis yang dihargai tinggi.

Rumus untuk Sukses itu Sederhana: 4Q + Fokus by nasionalis.me

Data Pindah Agama Indonesia: Ilusi Pemurtadan

Data Pindah Agama Indonesia: Ilusi Pemurtadan

pemurtadan tidak ada

Di Indonesia, ibarat gacoan, agama sudah menjadi seperti itu. Terlepas dari seberapa bisa agama mempengaruhi hidup secara positif yang paling kerasa agama dijadikan seperti panji-panji oleh pemeluknya. Si A pindah agama ke Prostestan, “pendukung” Protestan akan menabuh genderang kebanggaan. Atau si B pindah memeluk Islam, secara tiba-tiba minimal si B akan disorak-sorai oleh yang lainnya. Ya, sudah seperti pertandingan sepak bola saja.

Kebetulan hari Minggu pagi ini saya buka tv nasional dan sepertinya lagi heboh soal kasus pernikahan Asmirandah dan Jonas yang berbeda agama. Tentu saja, melihat dari kultur masyarakat, isu seperti ini akan sangat digoreng oleh media untuk mendapatkan views yang banyak.

Dalam keseharian hal di atas juga jamak sekali didengar. Pemeluk mayoritas sering fobia soal pemurtadan oleh kaum pemeluk minoritas, di lain sisi minoritas juga suka mengklaim / membanggakan bahwa pemeluknya makin banyak. Dulu waktu masih remaja ingusan, saya pernah dengar konsep transformasi Indonesia di mana sebuah denominasi gereja akan yakin akan terjadi pergerakan iman mayoritas rakyat menjadi pemeluk kristen. Klaim berlebihan untuk publisitas demi eksploitasi jemaat.

Ini Jadwal & Daftar Partai Politik Peserta Pemilu 2014, Siapkan Pilihanmu

Update: Jadwal & Daftar Partai Politik Peserta Pemilu 2014

Jangan mangkir lagi di Pemilu dan Pilpres 2014. Ayo menggunakan hak politik kamu untuk bersama-sama merubah nasib bangsa yang selama 10 tahun ini sudah disia-siakan. Ingat, salah pilih di 2014, kamu tidak bisa mengkoreksinya sampai 5 tahun berikutnya. Jangan salah pilih mereka yang suka pakai money politics, jangan pilih yang suka kampanye hitam, jangan pilih mereka yang tega menjual isu agama dan SARA, jangan pilih mereka yang tidak konsisten dan lambat, jangan pilih mereka yang hanya berambisi kekuasaan demi jaringan bisnisnya, dan jangan pilih mereka yang siang malam membanjiri televisi dengan iklan namun jelas-jelas tidak punya kepedulian sosial. Read more

Hikmah Kasus Holly Angela: Banyak Orang Brengsek + Psikopat Sekarang Ini

Kasus Holly Angela Bukti Makin Tidak Aman

Entah karena media yang makin bombastis atau memang kriminalitas & degradasi moral yang meningkat, akhir-akhir ini berentet kejadian-kejadian yang di luar akal sehat. Melindungi selingkuhan sampai memutilasi istri lah, sakit hati seorang perempuan memotong penis pasangan lah, diputuskan mahasiswa Untar pecundang siram air keras lah, sampai motor juga bisa jadi penjahat dan nyeret rambut Sisca Yofie  :diem:.

kasus holly angela

Makin banyak pasangan sendiri yang jadi orang brengsek dan malah menyakiti pasangan. Terakhir ini ada lagi kasus pengecut: Kasus Holly Angela yang tewas di apartemen Kalibata City. Di awal-awal sih kasus ini sepertinya simple, namun terakhir terbongkar ternyata pelaku lebih dari satu dan dicurigai ada orang dekat Holly yang menjadi otak kejadian. Seorang saksi penting yakni seorang Auditor BPK Gatot Supiartono, yang katanya adalah suami siri Holly, belum juga bisa dimintai keterangan.

Ya penulis mungkin penulis kurang tepat dalam generalisasi kriminal kejam equivalen dengan psikopat. Namun, mudah-mudahan pembaca bisa mengerti. Soalnya sepertinya makin banyak populasi manusia macam itu. Semula ditenggarai pengidap penyakit mental ini hanya sekitar 1% dari populasi, namun sekarang sepertinya kutipan Ann Landers ada benarnya. Ia bilang: One out of four people in this country is mentally unbalanced. Think of your three closes friends; if they seem OK, then you’re the one”. Atau dalam bahasa Indonesia: “Satu dari empat orang di dunia ini mengalami gangguan jiwa. Bila tiga orang yang anda kenal baik-baik saja, berarti anda-lah yang mengalaminya“.

Skeptisme & Keanehan pada Kasus Sisca Yofie

Kasus Sisca Yofie walaupun agak lari dari track politik namun ini menyangkut dengan keinginan masyarakat banyak agar kejadian yang sesungguhnya bisa diungkap. Sejauh ini, ada update tentang dua orang pelaku yang mengaku sebagai penyebab kematian pada kasus Sisca Yofie.

kasus sisca yofie

Kasus Sisca Yofie Terkait dengan Perwira Polisi?

Lebih uniknya dari kasus Sisca Yofie ini adalah adanya selentingan terkait hubungan pribadinya dengan seorang Perwira Polisi. Agak lebih jauh lagi, sebagian masyarakat yang mengikuti kasus ini sudah seakan membentuk opini bahwa terbunuhnya Sisca Yofie pasti terkait sang perwira. Begitukah?

Tentu saja kepastian tidak akan pernah benar-benar di dapat terkecuali berdasarkan barang bukti dan kesaksian. Hanya saja, barang bukti dan kesaksian tersebut juga sewajarnyalah sejalan dengan alur logika dan motif yang jelas. Namun, harus diingat juga, bahwa adanya motif tidak serta merta menjadikan seorang / satu pihak menjadi tersangka. Jadi tentu saja, sang perwira polisi, A, dan W, tanpa barang bukti yang jelas tidak boleh sekonyong-konyong dijadikan kambing hitam.

Walau bukan lawyer, bukan ahli hukum, dan bukan ahli forensik, sewajarnyalah di era keterbukaan ini kita wajib mengawasi setiap kasus hukum di negara ini, termasuk pada kasus Sisca Yofie. Paling tidak masyarakat memiliki keunggulan dalam dua hal: objektifitas dan common sense, walau minim bukti.

Fokus: Common Sense Motif Penjambretan pada Kasus Sisca Yofie?

Rangkuman pelbagai pemberitaan: