pengertian defisit neraca perdagangan

Bupati Walikota Dipilih DPRD: Pengkhianatan Demokrasi

Bupati Walikota Dipilih DPRD?

bupati walikota dipilih dprd

Setelah sekian lama kita menjungkalkan setan Orde Baru di mana suara rakyat sangat beresiko dibelokkan oleh DPR / MPR, malah sekarang kita mau kembali lagi. Koalisi Merah Putih, barisan para pecundang, yang kini juga didukung Demokrat (partainya SBY) justru menggulirkan wacana anyir: idenya adalah merubah pilkada langsung, kembali ke format lama di mana bupati walikota dipilih DPRD.

Dengan mulut berbusa-busa, mereka berusaha memberi argumen kalau pilkada langsung repot lah, kalau pilkada langsung banyak makan biaya lah, kalau pilkada langsung tetap saja banyak kecurangan dan korupsi. Benarkah? Benar. Tidak 100% salah, tapi tidak 100% benar.

Kalau dilihat baik-baik, sebenarnya ada udang di balik batu. Kenapa mesti pilkada langsung yang sudah memberikan pelajaran politik kepada rakyat harus diubah lagi? Apa takut akan ada Jokowi-Jokowi baru yang lahir lewat pilkada yang akhirnya mengalahkan Dewa Prabowo di awang-awang? Sudahlah. Perubahan format ini terlalu kasar terhadap demokrasi yang sudah kita bangun, ini sama saja memberikan leher rakyat kepada anggota perwakilan rakyat yang selama ini kredibilitasnya bau amis.

Lagipula, Pilkada langsung LEBIH BAIK daripada pemilihan di DPRD. Pemilihan Bupati atau Walikota oleh anggota DPRD hanya akan menyuburkan politik dagang sapi di parlemen. Rakyat tidak bisa menghukum mereka yang brengsek, sebaliknya yang brengsek bisa berkali-kali naik lagi karena sudah kongkalikong dengan anggota parlemen. Pilkada yang sudah berjalan baik ini sudah menghasilkan banyak, siapa tidak kenal Jokowi, Ganjar Pranowo, Risma, Ahok, Ridwan Kamil, dan serentetan nama inspiratif yang justru lahir dari rahim pemillihan langsung?

Pemilihan melalui DPRD hanya akan melahirkan raja-raja brengsek kecil yang menggurita berkuasa turun temurun menguasai suatu region. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa, hak pilih ada di anggota DPR. Rakyat jadi korban.

Pemilihan Langsung Adalah Esensi Demokrasi, Jangan Mau Suara Rakyat Dirampok, Jangan Mau Bupati Walikota Dipilih DPRD

Sebelumnya nasionalis.me memuji SBY sebagai salah satu penjaga demokrasi. Tetapi akhirnya mengecewakan. SBY lewat partainya yang lihai mencetak oknum kader-kader utama koruptor, justru ikut mendukung perubahan format pemilihan langsung. Mengecewakan! SBY tidak mampu menunjukkan kenegarawanan dirinya. Ia bukannya menjaga lilin demokrasi, justru ia ikut meniupnya.

Terlalu mengecewakan! Esensi demokrasi adalah 1 orang 1 suara untuk menentukan pemimpinnya. Bagaimana mungkin ada seorang yang mengaku negarawan justru mencekik esensi demokrasi sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku-ngaku demokrat, justru membiarkan suara rakyat kembali tergadai?

Mari, #TolakRUUPilkada dengan Isi Petisi

Kalau Anda sepakat dengan kami dan ingin menjaga api demokrasi jauh dari serigala-serigala buas, mari tanda tangani petisi di link berikut: http://chn.ge/1w2PVUv

Bupati Walikota Dipilih DPRD: Pengkhianatan Demokrasi by nas.me

Ironi Nasib Florencia Sihombing, Manakala Prabowo Sebut Indonesia Goblok

Prabowo Sebut Indonesia Goblok

prabowo sebut indonesia goblok

Florencia maki Jogja tolol, Prabowo sebut Indonesia Goblok. Tidak terlalu lama dari sekarang sebenarnya seorang calon presiden RI juga pernah menyebut sebuah kata yang memiliki arti sama dengan yang disebut Florencia. Yang satu bilang tolol, yang satu sebut goblok. Yang satu untuk Jogja, yang satu untuk Indonesia.

Seperti banyak dikutip media massa, Prabowo pernah berujar: “Bangsa Indonesia … kadang-kadang goblok…” kira kira demikian. Terlepas intensi dari sang capres yang telah gagal tersebut, sebenarnya dalam etika negarawan sebutan “goblok” adalah sebuah aib. Apalagi kalau harus dilekatkan dengan sebuah bangsa yang akan dipimpinnya kelak.

Florencia sebut Jogja tolol, warga di sana lalu marah, mungkin karena tidak terima disebut tolol. Tolol bukanlah sebuah realitas. Prabowo sebut Indonesia goblok, rakyatnya diam, malah makin mendukung, mungkin karena kita nrimo kenyataan bahwa kita termasuk bangsa yang goblok.

Tergantung Siapa yang Bicara?

Bisa jadi. Florencia sudah kadung jadi public enemy dan bukan siapa-siapa. Malah main serobot di SPBU terus bilang Jogja tolol, habislah ia. Prabowo berbeda, ia seorang mantan Jenderal, seorang anak “darah biru”, seorang yang mengklaim patriot pula, dan kaya luar biasa. Ketika ia sebut sebuah bangsa goblok, mungkin memang nasib bangsa itu untuk goblok. Sehingga membutuhkan juruselamat untuk bebas dari kegoblokan.

Atau mungkin, mungkin saja kita yang terlalu lekat dengan feodalisme? Ketika seorang anak dewa bilang kulit kita kuning, walau sawo matang kita percaya pula kulit kita kuning. Tapi ketika kulit kita sebenarnya merah, ada jelata emosional bilang sesungguhnya biru, kita lalu kerangkeng dia sebagai contoh.

Tanda Alam? Prabowo Sebut Indonesia Goblok, Florencia Maki Jogja Tolol…

Tapi jangan-jangan ini tanda alam. Bahwa kita sudah terbiasa menggobloki diri kita sendiri, bagian tubuh kita sendiri. Atau jangan-jangan, sudah banyak orang yang terjangkit virus merasa hebat untuk menggobloki orang lain tanpa dasar, merasa juruselamat, merasa pusat dunia?

Hanya beda pada nasib dan konsekuensi saja. Yang jelata harus terima kopi yang lebih getir mungkin…

Ironi Nasib Florencia Sihombing, Manakala Prabowo Sebut Indonesia Goblok by nas.me