orang batak terhina di jawa

Opini tentang Diskriminasi Etnis Tionghoa: Jangan Panggil Aku Cina

Penulis non-Tionghoa, namun, penulis secara tulus merasa gak ada gunanya dikotomi rasial di Indonesia dan ingin beropini soal diskriminasi etnis tionghoa. Karena pada dasarnya orang Indonesia yang menganggap dirinya pribumi juga dulu sekali adalah perantauan yang konon datang dari kawasan Indocina. Lalu mengapa yakin sekali menyebut kata Cina dengan menyakitkan? Apakah sudah merasa lebih nasionalis daripada kaum Tionghoa sendiri? Secara spesifik saya tidak yakin bahwa Farhat Abbas adalah orang yang pantas disebut nasionalis, mungkin dia pribumi, tapi dilihat dari caranya mendikotomi suku bangsa Indonesia, dia jelas tidak nasionalis.

Ahok Sasaran Tembak: Diskriminasi Etnis Tionghoa?

Menarik sekali melihat ada pola baru menjadikan Ahok sebagai sasaran tembak bersama bagi kelompok tertentu. Di awal, Ahok ditembak oleh Rhoma Irama. Lalu sempat calon gubernur Nachrowi Ramli berbicara secara kurang etis di sebuah debat terbuka dengan menyebuh “ahok…ahok”. Terakhir, Farhat Abbas seperti berusaha memancing di air keruh. Entah apa tujuannya, tapi saya pribadi berpikir ini bukan karena rasa ketidaksukaan atau kebencian, tapi lebih dikarenakan strategi sporadis Farhat Abbas yang berusaha populer demi libidonya menjadi calon presiden. Ya barangkali supaya ada yang melirik kali ya.

Diskriminasi Etnis Tionghoa: Kenapa isu “Cina” jadi Jualan Politik?

Kayaknya isu keturunan Tionghoa yang mulai rajin berpolitik menjadi sebuah kesempatan sebagian politikus untuk mendulang suara. Dengan menggembar-gemborkan terancamnya kemapanan politik pribumi, sebagian politikus mungkin berharap bisa menarik suara kelompok masyarakat yang mudah terprovokasi.