lurah susan

Kasus Lurah Susan & Komentar Gamawan: Strategi Diskreditkan Capres Jokowi?

Hati-Hati: Kasus Lurah Susan adalah Strategi Menghajar Jokowi?

Sungguh aneh kasus Lurah Susan di Lenteng Agung. Pertanyaannya, mengapa tiba-tiba bisa ada kasus sedemikian rupa yang bernapaskan sentimen SARA di Jakarta yang masyarakatnya seharusnya sudah cukup berpikiran maju dan berpendidikan tinggi?

Kasus ini makin berbelit dan tercium anyir ketika polemik tingkat kelurahan ini melibatkan suara seorang mendagri, Ahok, dan Jokowi. Ibarat main bola, seakan demonstran memberikan bola yang dioper dengan ciamik kepada mendagri, lalu mendagri yang berlari sendirian menyepak bola tanggung itu langsung ke gawang Jokowi. Untung seribu untung, masih berdiri bek tangguh Ahok di kotak pinalti untuk menyepak balik bola yang justru mengenai telak ‘wajah’ striker Gamawan di sana.

Ada apa? Apakah kasus lurah Susan sedemikian pentingnya? Atau karena ini berhubungan dengan posisi Jokowi yang potensial sekali menjadi Calon Presiden di 2014? Tentu saja, potensi tersebut akan membuat musuh-musuh politik Jokowi melakukan apa pun untuk mendelegitimasi wibawanya.

Masih ingat kan cara Foke dan Nara di pilkada DKI kemarin? Itu loh yang mengait-ngaitkan Jokowi-Ahok dengan sentimen agama. Terlebih lagi di saat itu, Rhoma Irama makin lantang mendiskreditkan Jokowi dan Ahok yang kental dengan ‘aura’ bukan Islami. Parah.

Kasus Twitter Staf Khusus Mendagri Umar Syahdat #BigotGamawan? Siapa Dia?

Minggu Pagi, Seorang #BigotGamawan Jadi Heboh: Kasus Twitter Staf Khusus Mendagri Umar Syahdat

Heboh lagi. Minggu pagi yang damai jadi panas akibat bigot teriak bigot. Akibat bos nya dikritik Wagub Ahok untuk belajar lagi soal konstitusi terkait komentar Gamawan Fauzi perihal Lurah Susan, Twitter Staf Khusus Mendagri Umar Syahdat cuap-cuap penuh pembelaan untuk bosnya. (Baca juga post sebelumnya tentang komentar Mendagri soal polemik Lurah Susan DI SINI).

Mungkin tersinggung akibat tohokan Ahok yang memang punya dasar dan didukung publik, malahan bang Umar bilang sana sini bahwa yang mendukung Jokowi dan Ahok adalah seorang bigot. Apa sih Bigot? Arti bigot kurang lebih kalau disederhanakan adalah seorang fanatik yang intoleran terhadap pandangan lain. Hm,….. Lalu kalau publik mendukung Jokowi Ahok yang berpatokan pada Pancasila, Konstitusi, dan Ke-Bhinneka-an, apakah bisa dikategorikan sebagai Bigot Pancasila, Bigot Konstitusi, Bigot Bhinneka Tunggal Ika? Plis deh.

Twitter Staf Khusus Mendagri Umar Syahdat

Seperti dikutip mentah-mentah dari twitternya si Umar demikian bunyinya:

Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan1 jam
Coba tunjukkan mana statement Mendagri yg minta lurah susan di pindahkan?
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan1 jam
Coba tunjukkan mana statement Mendagri yg minta lurah susan di pindahkan??Biar kalian gak asbun.
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan51 menit
Mendagri 2 priode jadi Bupati dan 1 Priode jadi Gubenur.Naif klu Ahok suruh Mendagri belajar konstitusi.Ahok shrsnya yg belajar kontitusi
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan50 menit
Ahok cuma 1 th lebih jd bupati belitung timur,trus maju jd gub babal dan kalah.Apa ahok pantes suruh mendagri belajar konstitusi?
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan48 menit
Mendagri itu jadi gubernur Sumbar,tentu beliau tahu tugas lurah itu apa.Sdg Ahok baru jd wagub dan bukan Gubernur.
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan44 menit
Mendagri itu jadi gubernur Sumbar,tentu beliau tahu tugas lurah itu apa.Sdg Ahok baru jd wagub dan bukan Gubernur. #bias
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan39 menit
Mendagri itu hafal UUD45,hafal UU Otda dan hampir semua peraturan dan beliau praktekkan.Mendagri bicara sll berdasarkan peraturan bkn asbun.
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan39 menit
Dan utk informasi buat kalian.Sampai saat ini Mendagri statusnya msh sbg PNS bukan Anggota atau pengurus Parpol manapun.
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan34 menit
Saya perhatikan,yg bully saya dan mendagri followernya cuma 6 -20 an.Jelas anonim dan bighot jokohok.
Dr. Umar Syadat ‏@Umar_Hasibuan33 menit
Anehnya lg,reaksi #BigotJokohok ini membabi buta.Tp menuruts saya Blm tentu Jokowi berpendapat spt bighot ini.
Agak sulit memang untuk membedakan siapa yang bigot di sini. Bisa jadi pendukung Jokowi Ahok, bisa juga Umar Syadat. Tapi yang pasti, pendukung Jokowi Ahok adalah Bigot Pancasila-Konstitusi-KeBhinekaan juga! Apakah Umar Syadat juga? Dan sepertinya tidak perlulah membanding-bandingkan jabatan antara Ahok dan Mendagri Gamawan, bukan berarti yang lebih tinggi dan lama itu lebih pandai dan benar dan efektif. Di perkuliahan saja ada yang namanya mahasiswa abadi kok. Kenapa abadi jadi mahasiswa? Ya karena tidak lulus-lulus karena kinerja hasil belajarnya gak bagus.
Eh btw, pembaca seharusnya tidak boleh juga melupakan Janji Mendagri Untuk Mundur Kalau e-KTP tidak selesai di Tahun 2012, loh…. Masih ingat kan? Kalau tidak baca deh buka-buka lagi deh janji tersebut salah satunya di detik.com berikut (baca: Anggota Komisi II Tagih Janji Mendagri Mundur Jika e-KTP Tak Selesai 2012). Sekarang bagaimana nih kabarnya? Semoga sudah selesai.

Kenapa Banyak yang Gerah?

Saya pernah baca beberapa di forum-forum online, ternyata ada rasa gerah yang mulai dialami para pengayom masyarakat, apalagi terhadap Jokowi. Kenapa? Karena Jokowi adalah calon kuat presiden di 2014. Tentu dong Anda tahu bagaimana Jokowi bekerja dan merubah birokrasi di Jakarta? Yang malas harus rajin, yang suka menjilat harus berkeringat, yang korup terpaksa jujur, yang bebal bahkan tersingkir. Nah bisa jadi yang gerah-gerah tersebut juga tidak terlalu menginginkan harapan Jokowi jadi presiden terealisasi. Wajar kan: siapa sih yang mau harus bangun dan kerja banting tulang pagi-pagi untuk melayani masyarakat kalau bisa santai santai saja? :p 

Kasus Twitter Staf Khusus Mendagri Umar Syahdat: Siapa Umar Syadat?

 Sumpah sama juga gak tahu. Tapi kalau kalian mau, coba deh browsing di Google Search dengan keyword “siapa umar syadat”…. Nanti juga ada banyak hasil pencarian yang ternyata CUKUP MENGEJUTKAN. :)
Kasus Twitter Staf Khusus Mendagri Umar Syahdat #BigotGamawan? Siapa Dia? by nasionalis.me

Komentar Gamawan Fauzi Tentang Lurah Susan: Kegagalan SBY Demokrat Part #1

Komentar Gamawan Fauzi Tentang Lurah Susan: Bijakkah?

Payah saat komentar yang gak asik justru keluar dari mulut seorang mendagri. Sebuah komentar yang cukup kontroversial dan tidak bijak jika berpijak pada kebhinekaan Indonesia. Mengenai demonstrasi SARA terhadap Lurah Susan di Lenteng Agung, Gamawan Fauzi malah berkata, “Pak Gubernur tidak salah menempatkan itu, tidak ada undang-undang yang terlanggar. Tapi akan lebih bijak lagi kalo Susan ditempatkan yang di-nonmuslim juga. Artinya aspirasi masyarakat terpenuhi.” Demikian komentar Gamawan Fauzi tentang Lurah Susan sebagaimana dikutip liputan6.com (25/9/2013).

Apakah pernyataan itu bijak? Hehe, tidak bisa jawab dengan kata bijak atau tidak bijak. Karena kata ‘tidak bijak’ belum bisa menggambarkan betapa konyolnya kalimat yang keluar dari seorang mendagri tersebut. Penulis dan pembaca tentu memijak kenyataan bahwa negara kita ini belum berpindah haluan kan? Belum menjadi Indonistan bukan? Tapi mengapa Gamawan begitu ceroboh (atau bodoh?) mengeluarkan kalimat tidak tepat seperti itu?

Kontan saja, kalimat itu mendapatkan balasan dari wagub Basuki. Basuki (dan juga Jokowi) bertahan pada keyakinan tidak adanya alasan untuk memindahkan Lurah Susan, apalagi kalau hanya soal masalah keyakinan. Kalau soal perbedaan keyakinan bisa menjadi alasan untuk seorang pejabat dimutasi, lalu apakah lagi artinya sebuah kebhinekaan? Bukankah SBY yang notabene Muslim juga merupakan pemimpin untuk banyak provinsi non-Muslim? Bukankah banyak bos perusahaan-perusahaan yang non-Muslim juga memimpin pegawai yang kebanyakan Muslim dan begitu sebaliknya? Lalu apakah semua harus bubar? Gila dan konyol!

Jelas Komentar Gamawan Fauzi Tentang Lurah Susan: Bukti Kegagalan SBY Demokrat dalam Memimpin Anak Buah

Kalau telinga dipasang baik-baik, sebenarnya SBY itu sudah dinilai rakyat gagal dalam memimpin. Tidak hanya dinilai lamban dan hanya bisa menghimbau dan tidak tegas, namun beliau juga gagal memimpin kabinet yang seharusnya bermutu. Yang ada, kursi kabinet hanya diisi oleh menteri campur sari tidak berbobot untuk memadu-padankan partai koalisi!