Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

contoh kasus migas

Kasus SKK Migas Rudi Rubiandini: Dosen ITB Teladan Mafia Migas

Kasus SKK Migas Rudi Rubiandini mafia migas benar-benar menghentak kembali dunia akademisi Indonesia. Garda penjaga integritas bangsa ini ternyata sudah tidak punya malu dan terindikasi “melacurkan” diri. KPK mencokok Ketua SKK Migas Rudi Rubiandini, seorang yang dikenal berintegritas dan idealis ternyata ditangkap tangan menerima “sesuatu”.

kasus skk migas rudi rubiandini

Kasus SKK Migas Rudi Rubiandini – Mafia Migas, Sebuah Pengkhianatan Kepercayaan

Kasus ini tidak biasa. Ini sama magnitute-nya dengan kasus malaikat suci berjubah putih yang ternyata melego nasib konsumsi daging sapi kita dan ditambah hobi koleksi bidadari-bidadari. Ini kali, seorang Guru Besar ITB dengan sederet kegemilangan intelektualitas dan label sederhana dan ber-idealisme justru terindikasi melakukan kekejian memalukan yang mencoreng ITB, akademisi, dan Indonesia.

Kasus ini membuktikan tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Guru Besar berkhianat, ahli agama menipu, pemimpin politik menusuk dari belakang. Siapa lagi yang bisa dipercaya? Tindak tanduk, ucapan, dan ajaran guru besar ternyata tidak menjamin. Sekali lagi, ini sebuah pukulan telak kepada integritas keilmuan kita: ini lebih dari sekedar moral hipocrisy, ini intellectual hipocrisy. Sebuah penggadaian kepercayaan.

Refleksi dan Hukuman Intelektual atas Kasus SKK Migas Rudi Rubiandini – Mafia Migas

Rudi Rubiandini masih terdaftar sebagai guru besar di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Gelar sarjana S-1 diraihnya dari institut yang sama pada tahun 1985. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di Technische Universitaet Clausthal, Jerman, hingga meraih gelar Doktor Ingenieurs (Dr.-Ing). Serangkaian gelar pernah diterimanya selama mengabdi di ITB. Rudi pernah menerima penghargaan sebagai dosen teladan dan inspiratif ITB tahun 1994 dan 1998. Selain itu, dia juga menerima penghargaan Inovator Nasional bidang Migas dari asosiasi IATMI pada tahun 2002. Setelah sekian lama berbakti, Rudi dikukuhkan sebagai Guru Besar ITB pada tahun 2010. Sebuah gelar prestisius yang oleh banyak orang menjadi jaminan kebenaran dan kejujuran.

Kasus Rudi Rubiandini harus menjadi pembelajaran untuk kita semua bahwa oknum Guru Besar ITB pun bisa terindikasi menjadi vampir penghisap darah. Saatnya pemerintah dan mendikbud serta berbagai instansi pendidikan tinggi kita saatnya berubah mengubah sistem. Entah bagaimana caranya, pengukuhan seseorang yang disebut Guru Besar ataupun professor haruslah melewati seleksi ketat yang tidak hanya dibuktikan melalui pencapaian akademis kelimuan, namun juga track record integritas dan pengabdian kepada masyarakat.

Kasus akademisi macam ini tidak boleh jadi preseden buruk. ITB, Mendikbud, dan seluruh instansi terkait harus berani mencabut gelar-gelar akademisi Rudi Rubiandini yang terindikasi sudah tercoreng oleh kasus mafia migas. Jika terbukti, ITB dan civitasnya harus berani melucuti gelar Guru Besar dari Rudi Rubiandini. Jangan sampai mafia migas menikmati apa yang tidak layak disematkan di dadanya. Jangan sampai seorang mafia dibiarkan menyebarkan virus ke anak didiknya.

SBY Harus Bertanggung jawab atas Indikasi Kasus Mafia Migas dalam Kasus SKK Migas Rudi Rubiandini

Di pertengahan 2012, adalah Presiden SBY adalah orang yang memberikan kabar bahagia bagi Rudi Rubiandini. Presiden SBY mengangkatnya sebagai Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2012), mengganti Widjajono Partowidagdo yang meninggal dunia pada Juni 2012. Kemudian pada 16 Januari 2013, SBY melantiknya sebagai Kepala SKK Migas, setelah BP Migas dibubarkan atas dasar keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Bagaimana mungkin SBY terus-menerus dikelilingi oleh mereka yang terindikasi sebagai tikus-tikus rakus? SBY seakan tuli, tak ikut merasa malu dikelilingi oleh para brutus rakus. Mulai dari mereka yang terindikasi kotor seperti Anas, Anggelina Sondakh, Andi Mallarangeng, dan lain lain hingga sekarang Rudi Rubiandini.

Pertanyaan besarnya adalah: Ada apa dengan SBY, tidak mampukah presiden yang katanya negarawan ini mengendus tikus-tikus sebelum menjadikan mereka anak emas?

Presiden SBY termasuk Jero Wacik, harus bertanggung jawab setidaknya secara moral untuk tragedi menggelikan ini. Rakyat juga harus bertanggung jawab karena memilih pemimpin yang kurang kompeten dalam menyeleksi anak buahnya. Pemilu lain kali, pilih pemimpin jangan karena gagah, jangan karena titel mentereng, tapi lihat dari konsistensi perjuangan dan pengabdian. Meminjam istilah Pak Mahfud MD, jangan pilih musang berbulu ayam yang ternyata mafia migas.