anekdot politik

Siapa Fadli Zon: Blunder Besar Gerindra dan Prabowo

Siapa Fadli Zon: Blunder Besar Gerindra dan Prabowo

Prabowo dan Gerindra harus belajar banyak. Belajar bahwa pemilihan umum bukan seperti perang militer atau pun perang gerilya yang berfokus pada “menggertak”, “menakut-nakuti”, atau pun “mengancam”. Sebab tujuan pemilihan umum pun berbeda dengan perang militer. Pemilihan umum bertujuan untuk mencapai mufakat kepemimpinan nasional yang solid yang amanah untuk mencapai tujuan kesejahteraan bangsa. Sedangkan perang bertujuan untuk melenyapkan musuh, menduduki tanah, dan menguasai pampasan perang.

Blunder Besar Gerindra dan Prabowo

Watak militeristik inilah yang sayangnya masih terbawa oleh Prabowo dan partainya. Dari gaya kampanye dan manuver politik kentara sekali bahwa setelah kecewa dengan pencalonan Jokowi (yang memang didukung penuh oleh rakyat) mereka jadi membabi buta menyerang. Seakan Jokowi adalah musuh yang harus lenyap. Padahal penulis yakin Jokowi dan partai pendukungnya memiliki tujuan yang sama untuk masa depan Indonesia yang lebih baik juga.

Lihat saja Golkar. Bagaimana Golkar (apalagi ARB) tidak kalah kecewa melihat pencalonan Jokowi yang pasti menghalangi jalan ARB. Namun, mereka bisa mengerti bahwa tujuan politik tidak semata-mata menang. Lagipula toh buat Golkar yang berpengalaman dalam politik, menang bukan hanya bisa digapai dengan melenyapkan pesaing namun justru bisa digapai dengan bekerja sama dengan pesaing.

Taktik Kampanye Gerindra Buruk: Fadli Zon Layak Depak

Fadli Zon layak didepak oleh Gerindra. Kader yang satu ini alih-alih menambah suara Gerindra, justru dengan aksinya yang membikin puisi satir untuk menyindir Jokowi justru menurunkan simpati publik terhadap Gerindra. Tidak usah jauh-jauh melakukan survey, pakai mata awam di sosial media pun kita bisa melihat bagaimana publik menanggapi serangan Gerindra terhadap Jokowi / PDI-P tersebut.