Ada Apa Jokowi Effect: Suara PDI-P Tidak Optimal di Pemilu 2014?

Ada Apa Jokowi Effect: Suara PDI-P Tidak Optimal di Pemilu 2014?

Sebelumnya ada optimisme besar PDI-P menang tebal di Pemilu 2014 9 April lalu. Namun hasil Quick Count menunjukkan hasil yang sepertinya berbeda. PDI-P yang digadang-gadang bahkan bisa mencapai 30% suara setelah pencapresan Jokowi, ternyata berhenti di ujung 20% suara saja. Padahal, untuk melaju dengan gagah, PDI-P membutuhkan minimal 20% suara voters atau setara 25% kursi legislatif. Suara PDI-P tidak optimal memaksa Moncong Putih untuk mencari mitra koalisi.

Suara PDI-P Tidak Optimal

Lalu, kenapa suara PDI-P bisa tidak optimal di tengah keyakinan akibat Jokowi Effect? Ada beberapa faktor yang bisa jadi menyebabkan hal tersebut:

  1. Peran Media televisi dalam kampanye PDI-P minimal: Kalau ada pernyataan Jokowi dan PDI-P penuh pencitraan sebenarnya bisa didebat. Karena kenyataannya tidak. Sejak semula, PDI-P minim dalam melakukan iklan partai. Sementara partai seperti Gerindra, Hanura, Golkar, dan Nasdem membombardir masyarakat dengan gincu televisi. Dan gincu itu berhasil. Kalau mau jujur, masyarakat kita masih mudah sekali dibungkus dengan pencitraan kok. Lihat saja itu: Hanura dan Nasdem yang sebenarnya belum jelas platform dan figur-figurnya, sudah bisa membungkus sekitar 6% suara. Dengan demikian bisa disimpulkan, efek bombardir iklan TV setara dengan 6% suara! Dengan demikian, Gerindra (capai hampir 12%) dan Golkar (capai 14%) didongkrak juga sebesar 6% oleh pencitraan televisi yang luar biasa.
  2. Jokowi Tidak Terkoneksi Baik dengan PDI-P: Jokowi belum terlalu nempel dengan PDI-P. Dan itu yang tertempel di benak masyarakat bahwa PDIP dan Jokowi kagak ada hubungannya. Pendukung Jokowi akhinya tidak serta merta memilih Jokowi. Kesalahannya bukan di situ. Kesalahannya justru pada iklan PDI-P yang sedikit jumlahnya itu, malah tidak memaksimalkan keterkaitan Jokowi dengan PDI-P. Belakangan iklan yang sedikit itu hanya menampilkan Megawati dan Puan Maharani. Rakyat pendukung Jokowi, akhirnya tidak pernah tahu bahwa mendukung PDI-P sama dengan mendukung Jokowi.
  3. Negative Campaign on Jokowi: Jokowi sekarang jadi public enemy. Berbalik dari kebiasaan menyanjung Jokowi, media yang dimiliki oleh pesaing PDI-P dan Jokowi justru sekarang mulai memberitakan Jokowi dengan nada yang agak sumbang. Berita yang sebenarnya tidak make sense, justru di ada-adakan untuk membawa premis tertentu.
  4. Mesin Partai yang Santai: Suara PDI-P tidak optimal di pemilu juga disumbang oleh ke-santai-an para caleg / mesin partainya yang merasa di atas angin dengan pencapresan Jokowi. Merasa menang, mereka juga meminimalisir usaha pemenangan di detik-detik akhir. Ini justru menjadi bumerang bagi partai.

Apakah Jokowi Effect Padam?

Jokowi Effect kali ini memang tidak mujarab membantu PDI-P. Dari survey yang diadakan Kompas pada Desember 2013, elektabilitas PDI-P sebenarnya sudah mencapai 21,8% padahal saat itu Jokowi belum dicapreskan. Setelah dicapreskan, PDI-P justru stuck di angka aktual 19-20% suara.

PDI-P tampaknya kalah strategis dan taktis dalam bergerilya merebut suara lewat media massa sehingga figur Jokowi hanya berhasil jadi bantalan elektabilitas PDI-P supaya tidak melorot lebih jauh lagi. Kalau Jokowi tidak dicapreskan, penulis yakin PDI-P bisa melorot ke angka 14-15% saja. Ini pelajaran penting sekali: bahwa pilihan politik di Indonesia masih pada level yang sangat rentan. Seperti industri fast food, pilihan politik rakyat juga sangat ditentukan oleh iklan. Semoga pada pilpres kesalahan yang sama tidak terulang.

 Ada Apa Jokowi Effect: Suara PDI-P Tidak Optimal di Pemilu 2014? by nasionalis.me

  • Freeman

    Efek JKW4P memang kurang dan belum terlihat pada pileg kali ini. Tapi efek klimaksnya akan terihat saat beliau menjadi capres mendatang.
    Kantong2 suaranya masih tersimpan di kalangan pemilih golput yg msh belum ikhlas memberikan suaranya utk calon2 anggota dewan yg nilai rapornya masih kebanyakan merah. Caleg PDIP sekalipun tak akan gampang merayu pemilih golput walaupun sepenuhnya menduku JKW4P.
    Sebagaimana perkiraan sebelumnya jika JKW4P maju jadi capres nanti maka akan ada iklan seperti ini “Yang hebat orasi…. banyak, tapi emang masih ada Dewa lain selain JKW4P?”

  • Hadi Purwanto

    penulis sepertinya tim Cyber Jokowi.. tulisannya dari awal sampai yg ini ga netral.