Menalar Kasus Pembunuhan Ade Sara oleh Hafitd-Assyifa: Psikopat?

Menalar Kegilaan Kasus Pembunuhan Ade Sara oleh Hafitd-Assyifa

ciri haiftd sifa psikopat

Sekali lagi remaja bermasalah. Kali ini bukan sekedar mabuk, pulang malam lalu nabrak, atau siram air keras, tapi yang terakhir ini berakhir pada pembunuhan keji. Kasus pembunuhan Ade Sara jadi begitu besar karena latar belakang masalahnya yang sebenarnya sederhana. Dendam para “psikopat” (catatan: ini bukan label resmi berdasarkan analisis psikolog, tapi menurut saya pribadi mereka sudah terlihat demikian) Hafitd dan Assyifa ini dimulai dari rasa cemburu dari pacar-pacaran ala remaja yang seharusnya masih naif. Pelaku masih 19 tahun.

Entah apa yang ada di otak pasangan Hafitd dan Assyifa ini sampai sedemikian sinting melakukan rencana pembunuhan dari satu minggu sebelumnya. Pembunuhan keji itu sendiri dilakukan di dalam mobil dengan cara menyetrum, menganiaya, hingga akhirnya korban Ade Sara meninggal karena tersedak gumpalan kertas yang dimasukkan ke mulut.

Apa Penyebab Kegilaan Para Psikopat Kasus Pembunuhan Ade Sara ini?

Kalau penyebab mereka membunuh tentu rasa cemburu (yang konyol itu). Tapi apa penyebab sehingga mereka jadi segila itu sehingga berani membunuh anak manusia tanpa berpikir jauh ke depan? Dan lebih lagi apa penyebab kegilaan para pelaku sehingga mereka bisa sedemikian santainya memposting twitter mengenai Ade Sara setelah terbunuh bahkan berani beralibi melayat korban?

Kasus Pembunuhan Ade Sara

Pendidikan? Tentu ada bagiannya, sistem pendidikan kita yang tidak lagi mengindahkan pelajaran moral dan budi pekerti pasti ada sumbangsihnya.

Lingkungan dan hiburan? Ya, pasti juga pengaruh. Industri hiburan patut bercermin atas terlalu cepat dewasanya generasi remaja zaman sekarang. Generasi remaja masa kini terlalu tua perilakunya untuk kemampuan mental yang belum matang. Jangan dibandingkan dengan generasi 20-30 tahun lalu, dengan generasi remaja 10 tahun yang lalu saja, generasi remaja yang sekarang sudah beda sekali.

Karma itu Ada dan Terkadang dibayar Cash

Sebagian anak yang brengsek dipengaruhi lingkungan atau ketololan dirinya sendiri. Namun sebagian anak brengsek yang justru dipengaruhi oleh dosa dan karma orang tuanya. Dan melihat kadar kesintingan dua orang yang masih bisa senyum-senyum setelah ditangkap polisi ini, saya kok jadi yakin ya problem dua anak ini adalah karma orang tuanya.

Karma bisa lewat apa saja. Tapi di Indonesia itu seringkali di-”tularkan” ke anak lewat uang haram. Uang jahat yang didapat dari hasil korupsi, merampok, memeras, atau bahkan membunuh JELAS akan menuntut balas suatu saat kelak. Kita bisa saja melogiskan bagaimana uang haram bisa menyebabkan kebrengsekan keturunan, cuman apa pun namanya dan rasionalisasinya, penulis percaya itu yang sering disebut sebagai KARMA.

Hafitd bajingan tengik yang petantang petetenteng ini ternyata anak seorang dokter yang pernah beken beberapa tahun lalu. Hanya saja, beda dari dokter kebanyakan yang menyelamatkan nyawa orang, dokter Ownie Sumantri adalah pembasmi nyawa bayi yang dijebloskan ke penjara baru bebas tahun 2012. Bahasa populernya = dokter aborsi. Bayangin, betapa jahat uang yang dipakai untuk kasih makan Hafitd sedemikian rupa sehingga membentuk anak sampah? Sedangkan Sifa sendiri anak seorang polisi inisial IS yang bertugas bikin STNK. Hehe, kalau soal Sifa simpulkan sendiri.

So, tidak usah dulu terlalu jauh menganalisis bagaimana seseorang bisa menjadi begini atau begitu karena karma itu ada dan begitu jelas menuntut balas. Itulah mengapa orang kita peduli dengan bibit, bebet, bobot. Bukan cuma soal seberapa melimpah ruahnya kekayaan seseorang tapi juga bagaimana hal itu dicapai, kotor tidak cara pencapaian dlam hidupnya, dan sebagainya.

Jadi buat yang masih korupsi, ambil duit orang, merugikan orang untuk diri sendiri, halalkan segala cara: sehingga tega kasih makan keluarga dengan uang haram. Malu dan takut-lah pada dirimu sendiri dan keluargamu. Stop ambil jalan pintas. Dunia itu sempit sesempit daun kelor. Ada karma yang mencarimu dan keturunanmu. Ada sumpah serapah orang lain atas kejahatanmu yang akan segera menuntut pertanggung jawaban.

Kadang akan dituntut pertanggungjawabannya nanti di dunia selanjutnya. Sebagian dituntut juga pertanggungjawabannya lewat keturunanmu. Yang terburuk, saat mencarimu, karma membayarmu cash, tidak pakai dicicil. Di saat itu, karma akan memperlihatkan betapa kotornya tanganmu selama ini. Benar-benar di depan matamu.

**sebarkan tulisan ini lewat fb atau twitter kamu, semoga makin banyak yang sadar**

Menalar Kasus Pembunuhan Ade Sara oleh Hafitd-Assyifa: Psikopat? by nasionalis.me

  • admin keren

    Good saya suka dengan tulisan ini

  • Adi

    saya setuju dengan pernyataan bahwa para remaja-abg kita punya pikiran yang terlalu jauh ke depan tapi tidak dibarengi dengan sikap mental yang sesuai. Perkembangan teknologi sedikit banyak membantu perubahan gaya hidup para remaja-abg. Disamping pola asuh, pertemanan, dlsb nya. Dunia (karena teknologinya) mengajarkan pola instan. Makan instan, belajar instan, kerja instan, segala sesuatu instan. Inilah yang membentuk perilaku para pelaku. Hati-hati ! pola seperti ini sudah mewabah.

  • aris

    karma…

    kenapa orang lain yg jadi korban?
    jika 2 ekor itu yang seharusnya mendapat karma dengan menjadi korban.

    • MendinganManaID

      saya sebagai penulis: good point mas