Makna Nasionalisasi Aset Negara: Biar Si Jenderal Prabowo Mengerti

Biar Si Jenderal Prabowo Mengerti Makna Nasionalisasi Aset Negara

Lucu juga melihat partai si jenderal seperti anak kecil malah asik bikin puisi cengeng. Beda-beda tipis dengan jenderal sebelumnya yang hobi bikin lagu. Perbedaannya yang dulu bikin lagu tanpa satir sadis, yang ini bumbunya pedas level 10 ditambah balsam. Namun intinya sama: sama-sama cengeng.

Jenderal tim puisi sekarang banyak menyindir. Hobi selepet kiri kanan seolah dirinya tiada berdosa. Di atas kuda, yang bikin makin mirip karakter diktaktor Hugo Chaves, ia berkata tentang nasionalisme. Dengan kekayaan triliunan yang entah datang dari mana ia bicara soal kemiskinan. Dari demokrasi ia kini hendak melawan dukungan rakyat pada seorang capres yang sudah disebutnya boneka.

Makna Nasionalisasi Aset Negara

Tapi karakter tidak pernah berbohong. Karakter tidak muncul karena jumlah uang yang kamu punya, istilah heroik yang dikeluarkan, otot kuda yang kamu tunggangi, atau pangkat militer yang pernah disematkan. Karakter lelaki, karakter pemimpin paling kelihatan justru saat mereka tertekan. Namun toh, karakter yang keluar ternyata tidak seindah rumor. Karakter cengeng yang justru muncul, karakter penakut, karakter ambisius. Aneh seharusnya jenderal berjiwa besar.

Makna Nasionalisme bukan Sekedar Nasionalisasi Aset Negara tapi Juga Efisiensi dan Profitability

Kubu partainya jenderal banyak bilang bahwa PDI-P banyak jual aset asing. Entah pura-pura tidak paham atau tidak paham beneran. Hehe. Baiklah coba dijelaskan sedikit mudah-mudahan partai si jenderal mau ingat-ingat lagi dan tidak melakukan hasutan politis lagi dan supaya rakyat juga mengerti.

Harapan yang diberikan orang yang sok heroik biasanya berkaitan dengan semangat nasionalisme yang biasanya berkaitan dengan nasionalisasi aset-aset asing. Omongannya dibikin mudah dan menarik oleh mereka: seolah dengan punya aset sebanyak-banyak terlepas menguntungkan atau tidak, yang penting punya aset berarti kita bangsa nasionalis yang mandiri. Itulah omongan tukang jual mimpi, mirip dengan omongan ora mutu seperti Kim Jong Il, Kim Jong Un, dan Hugo Chaves. Para diktaktor impoten yang sok heroik, bicara seolah pahlawan, padahal hidup dari darah rakyatnya sendiri dan eksploitasi galian minyak bumi.

Benarkah partai si kerempeng (yang sering dihina partai jenderal sebagai capres boneka) jual aset negara supaya kita hancur? Jawabannya tidak, malah sebaliknya.

Analogikan sebuah rumah tangga morat-marit yang ditinggal kabur bapak rumah tangga yang juga meninggalkan banyak hutang. Di rumah hanya tinggal si ibu dan 2 anak balita. Kebetulan tersisa hanya rumah, motor yang biasa digunakan ojek si suami pecundang, sepeda, televisi, warung kecil-kecilan, dan peralatan rumah tangga. Terdesak tekanan ekonomi sehari-hari, si ibu yang kini bekerja sendiri butuh modal tambahan untuk warungnya, untuk bayar hutang suami bajingannya, untuk kasih makan anak-anaknya. Apa yang dilakukan si ibu? Dia lalu menjual motor dan sepeda dan televisi. Dia sadar betul motor itu bisa berguna kalau dia pergi ke pasar, sepeda juga, televisi bisa buat hiburan dia di rumah. Tapi fokus dia sekarang, membayar dulu hutang rumah tangganya dulu dan menambah jualan di warung supaya omzet meningkat. 

Syukurlah, lewat menjual aset penting tersebut dia kini hanya perlu berfokus dengan warungnya untuk merawat 2 balitanya. Hutangnya sudah selesai. Dia berpikir suatu hari nanti, motor, sepeda, dan televisi bisa dibeli lagi.

Begitu pulalah keputusan yang diambil Ibu Ketua Umum partai si kerempeng saat menjabat presiden dahulu. Asal tahu saja, peninggalan mantan mertua si jenderal (alias mantan presiden Soeharto) adalah 86 perusahaan negara yang tidak sehat dari 160 yang ada saat itu! Bayangkan. Lebih dari separuh yang cuma mencetak RUGI RUGI dan RUGI. Inefisiensi jelas disebabkan oleh mismanajemen dan tindak korup banyak perusahaan negara yang dibiarkan selama bertahun-tahun. Karena itulah, pemerintahan Megawati lantas melepas BUMN macam Indosat ( PT Telkom, PT Socofindo Indonesia, PT Indofarma, PT Batubara Bukit Asam dan PT Wisma Nusantara) sebagai pilihan untuk menembel kekurangan setoran di kas pemerintah. Jika tidak, defisit tahun 2002 bakal melebihi target 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto. Toh akhirnya aset tersebut kembali kita beli lagi.

Bagaimana mungkin si jenderal cengeng dan partainya tidak mengerti itu? (atau pura-pura tidak mengerti?)

Lagipula yang patut si jenderal mengerti, garis kebijakan ketua umum si capres kerempeng alias Megawati adalah politik anggaran yang menutup APBN, saat itu APBN defisit mewarisi berantakannya ekonomi di masa kejatuhan Soeharto yang hancur lebur (lagi  Soeharto adalah mantan mertua si jenderal). Melakukan “Politik Penyelamatan Anggaran di Masa Darurat” amat penting kalau tidak mau negara kolaps karena tumpukan hutang yang luar biasa banyaknya. Oleh karena itulah Mega dapat menekan hutang luar negeri hingga hanya menambah hutang sebesar Rp 12 Triliun. Bandingkan dengan era SBY sampai 2012 saja sudah mencatatkan penambahan hampir Rp 700 Triliun. Sebagai perbandingan hutang era Soeharto mencapai Rp 1500 Triliun (atau kalau dibagi 32 tahun sekitar Rp 46 Triliun per tahun).

Jelas sekali arah kebijakan kemandirian anggaran Megawati adalah untuk secepat mungkin menyelesaikan hutang agar bisa berdikari sebagai negara berdaulat dan tidak dirongrong terus oleh IMF atau World Bank.

Masih Mau Jualan Kecap Cap “Paling Nasionalis”?

Jadi hentikanlah untuk jualan kecap kampanye cap “paling nasionalis”. Jangan berikan rakyat harapan ke surga tanpa konteks yang nyata. Apa “paling nasionalis” merasa “paling heroik” sepadan dengan tujuan ingin menasionalisasi aset-aset privat juga? Kalau semua-muanya mau dinasionalisasi apalagi nanti yang akan dimiliki sektor swasta dan masyarakat individual. Asal tahu saja ya pembaca, kata nasionalisasi itu memiliki arti kata yang tajam loh. Nasionalisasi yang radikal ya mirip-mirip dengan apa yang terjadi di negara-negara komunis seperti Korea Utara. Apa-apa dimiliki oleh negara, tidak ada yang dimiliki rakyat. Kalau bisa, termasuk jiwa Anda dan iman Anda juga dimiliki oleh negara. Bekerja sekeras apa pun, aset yang Anda miliki adalah milik negara yang dipinjamkan dan bisa ditarik sewaktu-waktu. Hati-hati.

Biar Si Jenderal Prabowo Mengerti Makna Nasionalisasi Aset Negara by nasionalis.me

  • aa

    Kalo kasus BLBI bisa jelasin gak? Alasan si ibu?

  • Pemerhati Kebijakan Megawati

    Mungkin Lebih Tepatnya Analoginya seperti ini

    Si ibu adalah JANDA yang punya BANYAK HARTA namun juga BANYAK UTANG, tapi tidak punya penghasilan, berhubung si ibu tidak tau cara mencari UANG makanya ia MENJUAL HARTA HARTAnya kepada orang lain untuk membayar hutang dan MAKAN

    jualnya ke siapa? CALON SUAMI BARUnya yang menjanjikan KESEJAHTERAAN ketika nanti si IBU tidak MENJADI IBU dari ANAK ANAKnya lagi, karena IBU itu IBU TIRI

  • taenia_pita

    BAIK PAK PRABOWO MAUPUN PAK JOKOWI..DUA2NYA BELUM TERUJI..KENAPA TIDAK MEMILIH YANG SUDAH TERUJI….DARI SEGI DISIPLIN DAN MOTIVASI PRABOWO LEBIH BAIK DARI PADA JOKOWI

  • Karyawan BCA

    BCA itu perusahaan yang MERUGI dan GA BERGUNA ya? Sampe Megawati JUAL LAGI DENGAN HARGA MURAH? #aku RAPOPO