Keberadaan Surga dan Neraka: Tuhan Bukan Kasir

Keberadaan Surga dan Neraka: Tuhan Bukan Kasir

Ahmad Dani bertanya: apabila surga dan neraka tak pernah ada masihkah kau bersujud kepada-Nya? Atau setidak-tidaknya apabila seorang Saksi Yehuwa (sempalan Kristen) berkata bahwa neraka bukan berupa api tapi tidur panjang yang tanpa henti. Kehilangan esensi, kehilangan eksistensi. Neraka bagi mereka adalah tidur tanpa bangun, hilang. Bagi Saksi Yehuwa, neraka seperti yang dikonsepkan oleh Kristen maupun Islam atau Yahudi, tidak nyata. Neraka adalah kematian tidak berkesudahan, sedangkan surga adalah dibangkitkan dari kematian.

Keberadaan Surga dan Neraka

Betapa menarik melihat berbagai pandangan dari agama-agama yang intinya mengajarkan kebenaran sekaligus mengklaim paling benar.

Saat berdiskusi ringan tanpa arah, ada kawan relijius bertanya ke kawan humanis yang lain begini: terlepas bagaimana bentuk surga dan neraka, bagaimana menurut kamu Tuhan menghitung kelayakan? Kawan yang humanis ternyata memiliki pandangan yang menarik: Tuhan tidak bisa disimplifikasikan menjadi seperti aktivitas hitung menghitung dosa dan pahala layaknya kasir. Ia jauh lebih bijak dari yang bisa dibayangkan. Kalau ibu kandung kita yang kecewa mampu memaafkan anaknya yang menonton video porno, kenapa Tuhan mesti digambarkan menyeringai penuh amarah seperti buto ijo? Sama seperti oversimplifikasi apabila Tuhan akan menghitung suatu timbangan dosa-pahala seperti pedagang di pasar.

Walaupun tidak sepenuhnya setuju pandangan kawan humanis, tapi ada kebenaran di dalamnya. Dan there is always a truth out there, just learn it. Bagi saya, gambaran perspektif sang kawan yang humanis ada benarnya seperti kisah di Alkitab tentang Yakub. Yakub sejak semula adalah anak bandel. Dia bahkan mencuri berkat kesulungan dari Esau. Dasar Tuhan sudah jatuh hati, tetaplah keturunan Yakub yang terus diberkati. Bahkan ia sempat bergulat dengan yang Kuasa.

Bagi kawan saya yang humanis, Tuhan adalah lebih dari sebuah konsep buto ijo berkuasa yang penuh amarah. Bagi dirinya, Tuhan adalah sosok bijaksana yang asik, yang paham dan punya pandangan terbuka, ingin manusia-Nya hidup bahagia dan penuh senyum. Tuhan yang dimengerti si kawan humanis, tidaklah penuh amarah membabi buta yang penuh geram ketika manusia tidak percaya pada-Nya. Bukan pula konsep Tuhan perang yang membangun prajurit pembela untuk menaklukan mereka yang tidak percaya pada-Nya. Buat apa toh? sebut sang kawan.

Ya, bagi saya cukup valid konsepnya. Saat saya dulu jadi asisten dosen di UI, saya tidak ingin jadi asdos yang mirip buto ijo. Saya justru berusaha menciptakan keasikan saat belajar karena ingin semua mahasiswa enjoy dan rileks dan bisa memahami pelajarannya. Kalaupun ada yang tidak bisa ya saya bantu. Kalau pun tetap tidak bisa ya mungkin dia hanya perlu mengulang tahun depan. Kalau tetap sampai kiamat pun tidak bisa saya tidak marah membabi buta dan tidak rela membakarnya hidup-hidup sepanjang masa. :p

*agama apa pun pembacanya, tolong dipahami ini adalah sebuah perspektif. Kalau tidak sepakat komen cerdas dan close, kalau suka komen dan like. tidak perlu menghujat. Kawan humanis bilang: Tuhan bukan kasir yang akan menghitung hujatan Anda di sini sebagai tiket syarat masuk surga*

Keberadaan Surga dan Neraka: Tuhan Bukan Kasir by nasionalis.me

  • Tuhan

    itu kan pikiran ente, tuhan kasir, menghitung dosa dan pahala, tuhan juga penyayang seperti ibu yang memaafkan anda menonton film porno, namun tuhan juga pemarah, ketika anda diperingatkan berkali-kali namun tidak mendengar.. see? kalau anda jadi asdos, ya itu anda dengan sifat kehumanisan anda, tuhan itu bukan HUMAN, tihan itu GOD sifatnya bukan humanis, tapi GODDIS, Asshole

    • Udin

      Manusia adalah ciptaan Tuhan, Dia memberikan gambaran akan akhirat melalui Nabi2 pilihanNya..Analogi/ logika anda sangat terbatas untuk menjangkau Ilmu Tuhan yg sgt Besar.. Tuhan telah memberikan Gambaran lewat Kitab-KitabNya.. yang harus dipelajari oleh Manusia sebagai pedoman hidup. bukan lewat logika Anda yang penuh emosi. Dan anda sangat dilarang untuk memfonis sesuatu berdasarkan logika Anda semata… Tuhan sangat banyak memberi contoh akan sejarah Nabi2 sebelumnya. dan kisah2 yang lain…. serta bukti2/ azab2 dunia yg dirasakan saudara2 kita kemarin akan musibah bencana alam dll. apakan anda masih meragukan Firman2Nya??

      • Freeman

        Tidak ada agama untuk orang yang tidak berakal. Tanyalah dirimu sendiri apakah Syahadat atau Pengakuan terhadap Dia benar2 telah sah menurut hati nurani kita. Atau masihkah ada keterpaksaan sekecil apapun di relung hati kita yg terdalam. Hanya kita dan Tuhan yg tahu apa yg terasa disana. Jika masih berharap pamrih dan belum sepenuhnya ikhlas atas pengakuan itu maka itu msh jauh dari makna seorang muslim atau beragama. Disinilah beda kualitas seseorang dalam berkehidupan beragama. Sedangkan ikhlas dan syukur merupakan media paling cepat untuk menjadi makhluk paling bahagia untuk hidup di dunia yg fana ini. Jadi perdebatan tentang surga dan neraka tergantung nalar masing2. Tuhan berikan akal utk beragama bukan agama utk akal2an. Keyakinan kita lepada Tuhan adalah suatu yg tidak bs diperdebatkan karena itu urusan kita dengan Tuhan. Keterpaksaan dalam berkeyakinan membuat kita selalu ragu dimana Tuhan dalam aplilasi kehidupan kita sehari-hari. Demikkan.

        Ana tajalla bunayya.

  • Manusia

    Betul, betul, betul.. Anda benar, jalan fikiran dan analogi anda patut diacungkan jempol. Tapi anda lupa, berapa lama anda hidup di dunia? Berapa lama anda akan mati? Berapa lama kehidupan setelah kematian nanti. Anda pembaca Alkitab, anda pasti tahu, kalau kalau hidup didunia hanya sementara. Kehidupan abadi adalah nanti setelah mati. Ibu yg baik hati tentu tidak membiarkan anaknya membuang waktu percuma jika ada masa depan yg hanya bisa dicapai dg usaha keras, belajar, bekerja.. Bukan malah memaafkan anaknya yg menghabiskan waktunya dengan nonton video porno. Analoginya begini, Untuk masuk smp saja, dibutuhkan belajar yg giat, rajin juga harus lulus ujian nasional, utk dinyatakan boleh masuk ke smp. Jika untuk urusan dunia yg hanya sementara saja perlu usaha keras, bagaimana dg urusan kehidupan abadi setelah mati.. Pasti harus lebih keras usahanya.. Untuk sukses didunia yg sementara saja butuh diuji, bagaimana untuk sukses di kehidupan yg abadi. Utk lulus ujian syarat minimal nilainya 5, ada hitungan nya.. Bagaimana dg ujian menuju kehidupan abadi? Pasti juga harus dihitung. Tidak fair rasanya pengadilan kasih hukuman sama kalau membunuh hukumannya sama dengan memaki.. Kalau dunia yg sementara saja ada hitung hitungan, bagaimana dg yg kekal selamanya.

    • Adi

      Soal surga ato neraka, itu tergantung iman. Ketakutan soal neraka, itu ketakutan yang tidak suci. Kalo kita takut akan Tuhan, karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita.

  • omar

    si penulis ini menurut saya, berfaham liberalis. dia mencoba lari dari ketakutan akan adzab yg diancamkan tuhan lewat risalah, dengan memanipulasi logika yg dia mau. orang seperti ini sebenarnya cuma ingin menghibur diri dan ingin mengekspresikan kebebasanya lepas dari kewajiban syariat dengan konsep konsep logika yg serampangan. dia tidak sadar bahwa dia telah memaksakan pemikiranya seolah sesuai dengan konsep tuhan, padahal konsep tuhan sendiri dia tidak tahu harus mengambil dari rujukan kitab apa… sehingga dia mengelabui dirinya sendiri dengan konsep pemikiranya yg dengan tujuan agar semua orang memaklumi semua perbuatanya yg dilarang oleh agama tuhan.

  • omar

    kaum nasioanlis atau liberil adalah selundupan faham atheis. merek ingin hidup bebas dari jeratan hukum syariat, maka mereka tidak mau mengikatkan diri pada salah satu agama, sebab konsekwensinya akan membebani kebebasan mereka dan berperilaku. disisi lain, mereka harus dihadapkan pada status kelajiman beragama karena hidup dalam habitat manusia beragama. maka mereka tidak berani terang terangan mendeklarasikan bahwa dirinya tidak beragama, sebab takut mendapat kecaman dari masyarakat yg beragama. silahkan dibuktikan pada realita yg ada… tidak ada satu orangpun warga negara yg KTP nya tidak beragama, pastilah dalam KTP nya tertulis beragama