Agama Candu Masyarakat: Panti Asuhan Samuel Serpong

Ironi Menyedihkan Panti Asuhan Samuel: Agama Candu Masyarakat

Sebuah paradoks ketika indikasi kejahatan kemanusiaan justru dilakukan oleh seorang pendeta, Pendeta Samuel Watulingan. Di Panti Asuhan Samuel Serpong banyak kekerasan mental dan fisik terjadi, beberapa bahkan pelecehan seksual. Untuk sekedar dipukuli, digigit, dipaksa tidur di kandang anjing, tidak diberi makan dan diurus adalah hal sehari-hari yang harus diterima oleh anak-anak panti.

panti asuhan samuel serpong

Siapa pun yang bertanggung jawab tentu adalah orang yang brengsek, siapapun itu. Hanya saja lebih disayangkan lagi ini dilakukan oleh seorang pendeta. Seseorang yang sedari kecil saya diajarkan seharusnya mengajarkan kebaikan. Sayang sekali.

Agama Candu Masyarakat: Terlalu “Beragama”, Tanda Ketidakwajaran

Dunia mungkin sudah berubah. Sebagian oknum yang agak sakit mentalnya akhirnya mengambil jalan perlindungan terhadap jubah agama. Dulu bajingan, sekarang tetap bajingan tapi dengan jubah agama. Dulu pencuri, sekarang dengan jubah agama. Dulu koruptor, sekarang tetap tapi dengan jubah agama. Lucunya, biasanya mereka-mereka yang secara simbolis dan fisik paling menonjolkan / pamer tentang kehidupan agamanya, biasanya mereka adalah parasit atau penyakit itu sendiri. Teman saya, seorang yang percaya Tuhan dan dengan kehidupan spiritual. Namun, dalam kehidupan bermasyarakat, dia termasuk yang sedikit berbicara (baca: memamerkan) mengenai iman. Dia lebih merefleksikan kepercayaannya kepada Tuhan lewat aksi nyata dan pekerjaan. Lucunya dia pernah bilang: semakin kelihatan (baca: memamerkan) beragama diri seseorang, kecenderungannya, semakin bermasalah diri orang itu. Dia berargumen, kecenderungan manusia yang bermasalah pasti mencari solusi lewat Yang di Atas. Hanya saja sebagian pertama menemukan esensinya, sebagian kedua justru tersesat. Sebagian pertama terlepas gagal / berhasil mengatasi masalahnya, namun menemukan esensi kedekatan personal dengan Tuhan akan membantu dirinya untuk tegar menghadapi masalah apapun. Sebagian kedua, justru lewat mengumbar ayat-ayat Suci belagak seakan seorang nabi, ia berusaha memanipulasi kehidupannya sendiri dan pandangan orang-orang di sekitarnya demi mengambil keuntungan dirinya sendiri. Inilah yang terjadi di Panti Asuhan Samuel Serpong. Dugaan kuat: seorang pendeta brengsek mengkomersialisasi anak-anak yang entah diciduk dari mana untuk mendapatkan uang donatur. Donatur yang tidak kritis didukung lingkungan yang tidak peduli membuat support dana berjalan terus. Hanya, uang support itu mengalir bukan untuk anak-anak panti tapi untuk Pendeta Samuel jalan-jalan ke LA, beli apartemen, bangun rumah mewah, beli apartemen mewah, dan hidup senang-senang tentunya (seperti dalam facebooknya). Anak-anak panti? Disuruh tidur di kandang anjing.

Panti Asuhan Samuel Serpong Cerminan “Agama” dan Masyarakat yang Sakit

Ya, tularan penyakit hanya muncul dari inang yang sakit. Seorang Samuel bisa bertahan 13 tahun menjadi parasit pasti didukung oleh kondisi yang bisa support hal itu. Kondisi itu bernama “kondisi beragama yang sakit”. Agama di negeri ini sudah direduksi sampai cuma masalah seberapa banyak menyumbang, seberapa sering sembahyang, seberapa hapal ayat, dan seberapa bisa berpakaian menurut agama. Sebuah pemahaman agama yang minim yang malah mirip kondisi di abad kegelapan.

agama adalah candu masyarakat

Masyarakat kita lebih bangga punya masjid terbanyak, temegah, atau gereja terbesar terindah. Atau lebih bangga soal tidak pernah absen shalat atau selalu rutin ke gereja. Lebih bangga pada hal-hal tersebut dibandingkan esensinya. Itulah mengapa kita lebih sering ribut soal Valentine boleh atau tidak dibandingkan para pemuka agama ribut soal korupsi yang merajalela. Yakini bahwa kita semua sedang sakit. Tidak hanya di satu agama tapi di semua. Yang mengaku haji / ustad korupsi atau menipu, yang mengaku pendeta juga sama, bahkan kali ini menyiksa.   Sekarang apakah salah kalau dulu Karl Marx pernah bilang: “Agama adalah candu masyarakat.” ? Agama Candu Masyarakat: Panti Asuhan Samuel Serpong by nasionalis.me

  • pendeta iblis

    itu gara gara tuhannya ada tiga, trinity why not, hahaha,

  • Freeman

    Kunci masalahnya adalah kebodohan dan kemiskinan. Apalagi di negeri ini senakin tua seseorang cendrung semakin susah kehidupannya. Jadi hrs mencari jalan pintas agar masa pasca produktifnya bs hidup mewah tanpa keluar keringat halal. Ada yg cukup hanya menghafal bbrp ayat ditambah tampilan baju agamis yg last to date untuk menipu dirinya dan orang lain dg harapan kelak bs jadi anggota dewan atau dpt jabatan kekuasaan lainnya. Ada jg yg menanamkan sifat kebencian pada pengikutnya agar selalu jadi tamak , pembenci dan biang kegaduhan terhadap yg tak sepaham dgn mrk. Kebodohan datang dr nalar mereka yg dangkal. Bagaimana kelanjutannya ditentukan isi perut mrk. Andai kemiskinan bs berubah jd kesejahteraan maka diyakini ahli tasawuf dan filsafat serta penafsir Kitab2 Tuhan akan lahir dimana2. Tapi kapan masa itu datang tak ada yg tau kecuali Tuhan dan hati nurani penguasa negeri ini.