Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

Sedikit Memahami Bitcoin: Awal Mula Uang Kertas Hingga Idealisme Digital

Sedikit Memahami Bitcoin, Supaya Lebih Paham

Bitcoin ialah sebuah mata uang digital yang digunakan untuk alat pembayaran alternatif dalam dunia internet (untuk saat ini). Ide bitcoin berawal dari Satoshi Nakamoto yang diduga adalah nama samaran yang bisa jadi digunakan oleh beberapa orang. Spirit adanya bitcoin adalah menciptakan sebuah alat pembayaran yang independen dan fair:

  1. Sejak semula ide merancang bitcoin sebagai sistem terdesentralisasi di mana, tak ada satu lembaga yang bisa melakukan kontrol sehingga berpengaruh pada nilai mata uang ini.
  2. Pasokan mata uang bitcoin juga tetap, sehingga tidak ada pihak (dalam kebanyakan kasus negara) yang tiba-tiba seenaknya mencetak uang hingga menggerus mata masyarakat (lewat efek inflasi).

Sedikit Memahami Bitcoin: Apa yang Beda dari Uang Biasa? Kenapa Kita bisa Percaya?

Kamu akan paham kalau saya ceritakan kisah terciptanya bank di zaman dulu yang akhirnya melahirkan yang namanya uang.

Saat itu, orang sudah terbiasa melakukan transaksi menggunakan emas. Sayangnya, emas tidak praktis, tidak terstandard dengan baik, dan setelah transaksi sukar disimpan. Adalah seseorang yang akhirnya melihat peluang saat itu untuk membuka jasa penyimpanan emas dengan sejumlah imbalan kecil. Itulah bank pertama. Para pelaku pasar zaman dulu tertarik menyimpan emas di nenek moyangnya bank itu. Para nasabah sangat senang karena emasnya bisa aman, nasabah biasanya mengambil emas sewaktu-waktu akan bertransaksi.

Ketika jumlah emas semakin banyak dan transaksi semakin besar, segalanya makin tidak praktis. Bayangkan seorang nasabah yang ingin membeli istana seharga 300 KG emas pasti akan sulit membawanya. Untung saja si bankir cerdas melihat peluang. Ia lalu menerbitkan Surat Cek yang pertama. Surat itu berisi pengakuan bahwa si nasabah memiliki simpanan emas sebesar sekian KG di banknya.

Tebak apa yang terjadi- hey, nasabah tidak perlu bawa emasnya! Dia hanya perlu membawa surat tersebut dan membayarkan surat tersebut untuk istana yang ingin dibeli! Itulah uang kertas pertama. Bisa ditebak, nasabah lain juga menginginkan kepraktisan yang sama bahkan dengan besaran surat cek pecahan yang lebih kecil. Lama kelamaan surat cek tidak menjadi surat cek biasa lagi, tapi dibikin standar berbentuk uang kertas. Bedanya, kalau jaman dahulu surat cek dijaminkan dari emas, sekarang dijaminkan dengan kepercayaan. Kalau jaman dulu emas tidak bisa dicetak seenaknya karena harus ditambang susah payah, uang kertas bisa dicetak oleh pemerintah seenaknya.

Melihat dari sejarah di atas, sebenarnya yang ingin dijawab oleh Bitcoin adalah permasalahan bahwa uang kertas saat ini dikuasai pemerintah dan jumlahnya bisa bertambah tergantung pemegang kuasa. Dalam kasus Indonesia penguasa dan pencetak uang adalah pemerintah. Seberapa berbahayanya sih hal ini? Berbahaya sekali. Ingat ketika Jerman saat perang dunia I ketika mereka ditagihkan beban utang oleh pemenang perang sebesar 132 milyar Marks! Gila. Apa yang pemerintah Jerman lakukan? Mereka mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk bayar utang (hasilnya hiper inflasi, sepotong roti yang sebelumnya cuma 160 mark menjadi 1.500.000 mark). Bayangkan!

Belum mengerti juga kenapa pencetakan uang sepihak can kill you? Sebenarnya contoh di atas jelas. Tapi mari kita bikin simple mekanismenya biar mengerti. Bayangkan. Bayangkan sebuah dunia, ada 3 orang saja si A, B dan C. Si A adalah penguasa, B rakyat biasa, C empunya sapi. A saat ini memegang 1000 rupiah, si B memegang 1000 rupiah. Harta satu-satunya di dunia super sederhana itu hanya 4 ekor sapi. Berapa harga seekor sapi? Tentu saja 500 rupiah mengingat cuma ada 2000 rupiah total di dunia itu kan? Hanya saja si A licik. Dia tidak peduli nasib si B, dia hanya ingin membeli sapi sebanyak-banyaknya.

Ia lalu mencetak 2000 rupiah tambahan untuk dirinya sendiri. A total sekarang punya 3000 rupiah, si B tetap punya 1000 rupiah. Harga sapi seekornya jadi berapa? 1000 rupiah (itulah gambaran sederhananya inflasi!). Tapi lihat perbedaannya sekarang, si A bisa membeli 3 ekor sapi, si B hanya bisa beli 1. Disebut apakah ini? Penjarahan terlegatimisasi.

Bitcoin ingin menghadang isu ini. Bitcoin hanya menetapkan hanya ada 21 juta bitcoin yang bisa “ditambang” tidak akan ada lagi pencetakan (artinya: tidak akan ada penjarahan kekayaan). Untuk mengantisipasi penggunaan yang makin banyak, pecahan bitcoin. 1 Bitcoin (1 BTC) sekarang berharga sekita 6,7 juta rupiah. Adapun pecahan lebih kecilnya:

  • 1 BTC = 1 bitcoin
  • 0.01 BTC = 1 cBTC = 1 centibitcoin
  • 0.001 BTC = 1 mBTC = 1 millibitcoin
  • 0.000 001 BTC = 1 μBTC = 1 microbitcoin

So, balik lagi bitcoin akan menjadi sebuah alat transaksi yang dapat dipercaya jika masyarakat konsumen juga menaruh kepercayaan terhadap alat tukar yang satu ini. Bukankah emas juga demikian? Kenapa emas bisa berharga? Ya karena orang sepakat mempercayai emas memiliki nilai.

Sedikit Memahami Bitcoin: Apakah Visi Bitcoin Teraplikasikan? Apakah Bitcoin Bubble dan Hanya Spekulasi?

Visi bitcoin memang mulia. Hanya saja kemuliaan itu pada akhirnya termonopoli juga. Sekarang saya tanya, siapa yang bisa menambang bitcoin? Yap, akhirnya para penambang bitcoin dikuasai lagi oleh kelas elit diantara yang paling elit. Mereka bukan saya dan Anda. Tapi mereka adalah ahli-ahli bidang IT yang mengerti programming dan juga memiliki modal besar untuk membeli server super untuk melakukan “mining”.

Sedikit memahami bitcoin

Grafik di atas mencuatkan sebuah dugaan baru: bahwa bitcoin digunakan kaum tertentu untuk mendulang uang klasik dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sayang sekali. Namun, mudah-mudahan artikel di atas mampu memberi perspektif lain untuk sedikit tentang bitcoin.

Sedikit Memahami Bitcoin: Awal Mula Uang Kertas Hingga Idealisme Digital by nasionalis.me

  • Bantu dukung kami dengan LIKE & FOLLOW sosial media kami sembari menyebarkannya ke teman-teman kamu. Thanks!
  • Nasionalis.me berfokus pada opini politik yang disajikan dengan lugas dan gamblang. Sekarung subjektifitas akan menghasilkan objektifitas dengan sendirinya.