Motor Melawan Arus, Menggadai Nyawa

Motor Melawan Arus, Menggadai Nyawa

Terlalu mahal harganya untuk belajar bahwa motor melawan arus lalu lintas itu berbahaya. Kalau untuk meraih S2 di perguruan tinggi nomor wahid di negeri ini butuh 90 juta sampai 100 juta, akan sangat konyol kalau untuk belajar motor melawan arus itu berbahaya, bayarannya nyawa.

Sebagai pengguna lalu lintas sehari-hari, sudah menjadi pemandangan umum kalau kebanyakan pemotor-pemotor kita terlalu “menantang nyawa”. Mulai dari tidak pakai helm, ugal-ugalan, menerobos seenaknya di persimpangan lampu merah, naik trotoar, sampai melawan arus. Yang terakhir kasusnya mencuat lewat kecelakaan akibat motor melawan arus di JLNT.

motor melawan arus

 

Akibat melawan arus, sebuah mobil Honda City menghempaskan motor Honda Beat milik Faisal Bustamin. Faisal mungkin masih bisa bertahan, tapi istrinya, Windawati, yang tengah mengandung 7 bulan harus meregang nyawa secara sia-sia. 2 nyawa melayang. Entah apa yang akan tertinggal di benak Faisal Bustamin. Sebuah momen “keegoisannya” dalam berkendara harus berujung tragis. Ada beberapa potensi kesalahan motor melawan arus Faisal Bustamin:

  1. Menerobos rambu lalu lintas dengan menggunakan JLNT yang terlarang untuk sepeda motor
  2. Melawan arah
  3. Diyakini tancap gas melebihi batas maksimal
  4. Tidak memiliki SIM C

Para pengguna lalu lintas (kendaraan bermotor) harus sudah sadar untuk tertib berlalu lintas. Di Indonesia, kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Kasus kecelakaan yang menimpa Faisal mungkin berpotensi menyebabkan kemiskinan atau setidak-tidaknya guncangan dalam ekonomi keluarga, mengingat Windawati adalah ujung tombak ekonomi keluarga.

Beberapa fakta kecelakaan di Indonesia cukup mengejutkan. Penyebab utama kecelakaan darat adalah human error sebanyak 67 persen. Sisanya adalah disebabkan oleh jalanan yang rusak, cuaca, dan kendaraan yang tidak layak jalan. Kemudian dari kecelakaan tersebut, 62.5% di antaranya menyebabkan kemiskinan baru. Data dari Departemen Perhubungan bilang setiap hari di Indonesia terjadi rata-rata 87 orang meninggal akibat kecelakaan fatal berarti hitungan setahun sekitar 31.000 orang. Bayangkan, dari 31.000 kecelakaan ada sekitar 19.375 kecelakaan yang menyebabkan kemiskinan. Ambil hitung-hitungan kasar saja, asumsikan 1 Kepala Keluarga yang terlibat pada sebuah kecelakaan menanggung 3 orang (1 istri dan 2 anak) saja, berarti setiap tahunnya kecelakaan di Indonesia “memproduksi” sebanyak 58.125 orang miskin baru.

Pesan moralnya: yuk berhati-hati. Semahal apa pun time cost kamu di perjalanan, santai sajalah, tidak ada yang bisa menebus harga sebuah nyawa.