Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

Antara Imlek dan Film Act of Killing: Mimpi Indonesia

Antara Imlek dan Film Act of Killing: Mimpi Indonesia

Sudah nonton film Act of Killing (dalam judul bahasa Indonesia: Jagal)? Kalau belum, nonton gratis di bawah:

Penulis sengaja menyatukan kedua hal yang paling bertolak belakang dalam judul: Imlek dan Film Act of Killing, sebab keduanya memiliki hubungan dengan Mimpi Indonesia. Sebuah mimpi tentang kedaulatan, sebuah mimpi tentang persatuan untuk mencapai kejayaan abadi sebuah tanah yang dinamai Indonesia Raya.

Kebebasan perayaan Imlek di satu sisi merupakan sebuah puncak keber-arti-an makna persatuan negeri ini, sebuah batu loncatan yang mampu diwujudkan Abdurahman Wahid demi saudara sebangsa etnis Tionghoa setelah sekian puluh tahun dilarang Orde Baru. Di sisi lain yang kelam, film Act of Killing justru mempertontonkan masa lalu yang berbau anyir karena indikasi genosida terhadap simpatisan komunis Indonesia pasca Gerakan 30S/PKI. Di mana sebagian dari korban merupakan etnis Tionghoa (diaspora daratan China) saat itu.

film act of killing

Merupakan sesuatu yang memuakkan bagi generasi muda untuk mengetahui sebagian fakta bahwa simpatisan PKI mungkin adalah korban terbesar dari G30S/PKI, setelah sekian lama didoktrin kurikulum pendidikan sebaliknya. Estimasi sekian juta orang mungkin mati sia-sia sementara jutaan lainnya terpinggirkan karena terafiliasi komunisme.

Negara Cina Komunis yang Ikut Campur

Peristiwa tersebut memilukan, namun tentu bukan sebuah pengorbanan yang sia-sia. Komunisme memang adalah suatu ideologi yang lahir dari neraka yang dapat membunuh karakter seluruh bangsa. Seperti kanker, komunis memang harus dipotong sebelum menjalar ke seluruh tubuh nusantara. Tanpa pengorbanan 1965, mungkin sudah terjadi revolusi merah di Indonesia yang memaksa bangsa ini menghirup candu psikopat racikan Karl Marx yang lunatic.

Agak mengecewakan dalam konteks film the Act of Killing (disutradai Joshua Oppenheimer), negeri komunis Tiongkok justru menjadi pemrotes terbesar yang bisa memicu perselisihan ideologis.  Tanpa kepekaan, ketidaksukaan mereka dimuat oleh organ resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT), Renmin Ribao (Harian Rakyat). Bahkan ada tuntutan bahwa pembantaian komunis pasca G30S/PKI harus dimasukkan ke dalam kurikulum Tiongkok. Ketidakpekaan yang amat berbahaya.

Dengan mengungkit sejarah kelam kita yang tidak pernah sepakat dengan kegilaan komunis, Cina Daratan sudah dengan sengaja memicu lagi kelamnya diskriminasi antar etnis di bumi pertiwi yang sebenarnya akhir-akhir ini sudah pada tahap yang sangat baik. Negara Cina Daratan yang komunis terlalu arogan dengan semangat komunisnya yang menjijikan. Yang akan lebih menjijikan lagi apabila negeri Cina Daratan berupaya untuk mengafiliasikan lagi etnis keturunan (diaspora) Tionghoa di Indonesia dengan patriotisme komunis Tiongkok Daratan. Negara Cina Daratan tidak paham bahwa etnis keturunan Tionghoa di Indonesia adalah anak-anak bangsa Indonesia yang juga anti terhadap libido kekuasaan Komunisme.

Buah Pikiran Komunis adalah Pikiran Kejahatan

Sekali lagi, komunisme adalah kanker bagi kehidupan, bagi negara, dan bagi dunia. Tidak ada kata mundur untuk permusuhan abadi terhadap komunisme. Sebelum 1965, komunisme sudah menunjukkan taring penghisap darahnya. Cangkul dan bantuan pertanian yang manipulatif untuk rakyat sebelum Gerakan 30 S merupakan kamuflase untuk mendapatkan simpati. Seandainya mereka menang sekali lagi pemilu, Indonesia tidak akan pernah lagi bisa bermimpi tentang kemerdekaan. Komunisme pada dasarnya adalah parasit yang menghisap inang-nya, sampai dirinya sendiri menjadi inangnya. Ingat dengan fakta bahwa psikopat macam Hitler dan Osama Bin Laden pernah juga dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian? Begitu pula dengan komunis di Indonesia dahulu, serigala berbulu domba.

Mimpi Indonesia Mimpi Kebebasan: Antara Imlek dan Film Act of Killing

Seperti American Dream, pada dasarnya Mimpi Indonesia adalah mimpi tentang kebebasan, pluralisme, dan kemakmuran. Mimpi itu jelas hanya bisa diusung oleh Pancasila bukan komunisme. Jadi sekali lagi mari berhenti melakukan diskriminasi-diskriminasi SARA di nusantara ini. Keturunan Tionghoa di Indonesia adalah saudara kandung kita yang juga berjiwa Pancasilais dan anti-komunis dan hakul yakin memiliki Mimpi Indonesia yang besar. Jadi tiga hal:

1. Bagi sarang besar Komunisme di Cina Daratan, jangan coba-coba melakukan pecah belah pada kehidupan sosial bangsa ini yang walaupun lambat kita sudah bergerak maju terhadap penghargaan dan pluralisme, bukan sebuah keterpaksaan yang otoriter.

2. Buat kita sendiri, belajar pada masa lalu. Kaum Tionghoa adalah anak kandung ibu pertiwi yang juga selalu ingin memajukan ibu pertiwi. Imlek di tahun 2014 ini harus semakin mendewasakan kaum yang mengaku pribumi di Indonesia ini untuk berhenti diskriminatif sebab kita hidup di negara Pancasila yang menjamin kemerdekaan.

3. Komunisme tidak boleh pernah hidup di Indonesia sebab pada dasarnya komunisme merupakan ideologi yang berakar pada utopia sakit. Sebesar apa pun harga yang harus dibayar, Indonesia harus membasmi ideologi apa pun yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Antara Imlek dan Film Act of Killing: Mimpi Indonesia by nasionalis.me