Natal Kelabu, Renungan Natal 2013

Natal Kelabu, Renungan Natal 2013

Sebuah renungan natal 2013 yang bisa dijadikan bahan kontemplasi dan refleksi.

Alkisah, seorang raja di sebuah negeri kecil sedang gusar. Selama bertahun-tahun memerintah dalam kegemilangan, ia mampu menghadirkan banyak senyum ceria saat natal tiba. Namun, ia mulai gusar bilamana suatu hari nanti sebuah suasana natal menjadi berbeda dan kelabu. Pikirnya, jangan karena terlena kegemilangan akhirnya tanpa sadar perayaan natal kehilangan maknanya.

renungan natal 2013

Sang raja lalu memanggil penasihat utama di kerajaannya. Raja meminta pembantunya itu untuk mengadakan sayembara. Sayembaranya: seperti apakah gambaran natal yang kelabu itu. Bagi raja, dengan mengetahui gambaran natal yang kelabu ia akan mampu menghindarkan rakyatnya dari perayaan semacam itu.

Sayembara memunculkan 3 kandidat utama.

Kandidat pertama melukiskan sebuah suasana gereja yang sudah reot dengan atap-atap yang mau rubuh di atas para jemaat yang terlihat miskin dan susah. “Ini adalah keadaan di mana negeri kita menjadi miskin wahai Raja hingga kita tidak mampu merawat gereja”, begitu jelas sang kandidat.

Sementara kandidat kedua melukiskan sebuah gereja yang temaram dan sepi dengan atap tebal bersalju. Tidak tergambar satu jemaat pun di dalamnya. “Wahai baginda Raja, lukisan ini menunjukkan orang-orang sudah tidak mau berkumpul bersama di gereja dan merayakan natal. Mereka memilih merayakan natal sendiri-sendiri”, jelas kandidat dua.

Tapi mata raja tidak lepas dari lukisan kandidat nomor tiga. Bagi sang raja tidak ada yang aneh dari gambar tersebut. Sebuah gereja megah dan mewah terlukiskan dengan baik ditambah dengan jemaat penuh sesak yang tersenyum ceria. Sang raja pun bertanya, “Wahai kandidat tiga, bagiku tidak ada yang tampak kelabu di lukisanmu ini, jelaskan padaku apa maksudmu?”. Kandidat ketiga pun maju mendekati raja. Ia lalu menunjuk suatu sosok pada lukisan. “Wahai Raja, jikalau dilihat dengan seksama sebenarnya ada seseorang yang berdiri menatap nanar di luar gereja”, kata sang kandidat tiga serius. Raja pun bertanya, “Siapa sosok itu? Adakah orang miskin yang tidak kita pedulikan?”.

Kandidat sedikit menggelengkan kepala lalu melanjutkan bicaranya, “Bukan baginda Raja, sosok yang hamba gambarkan itu adalah Yesus sendiri. Natal kelabu bagi hamba adalah saat kita merasa sudah relijius namun sebenarnya kita sedang mengasingkan Tuhan”.

Renungan Natal 2013: Pusatnya adalah Kristus

Yap, kini industrialisasi dan komersialisasi merasuk ke seluruh sendi kehidupan. Mulai dari akademis sampai kehidupan relijius. Tidak ada yang salah dengan bisnis yang bertema natal. Tidak pun salah jika merayakan natal dengan baju, gadget, kendaraan baru. Namun kita tidak boleh melupakan bahwa pusat perayaan natal adalah Kristus itu sendiri, lainnya adalah aksesoris.

Selamat hari Natal 2013.

Natal Kelabu, Renungan Natal 2013 by nasionalis.me

  • hallelujas

    Tulisan yang bagus..
    Terima kasih buat tulisannya dan selamat Natal buat penulis..