Harga Kultur Kerja Industri Kreatif Indonesia: 1 Nyawa

Harga Kultur Kerja Industri Kreatif Indonesia: 1 Nyawa

1 nyawa hilang untuk sebuah karir terlalu mahal. Bahkan 1 nyawa untuk keberlangsungan sebuah industri pun, masih terlampau mahal harganya. Namun, kali ini tamparan keras bagi kultur dunia kreatif Indonesia harus dipertunjukkan melalui kematian seorang Copywriter Y&R Group. Kultur yang keras dalam industri periklanan telah membuat Mita Diran harus kerja 3 hari non stop, melewatkan jam tidur, dan bisa jadi menjadi salah satu pemicu kematiannya.

Beberapa industri memang terkenal keras, terlalu merasuk. Terlihat santai, terlihat wah, terlihat hidup penuh dengan dunia sosial namun kenyataan jauh dari demikian. Sebut saja industri-industri ‘wah’ seperti kreatif, periklanan, riset, audit, dan konsultasi yang jam kerjanya FLEKSIBEL. Fleksibel dalam arti “bisa kapan saja, sampai kapan saja”.
Kultur Kerja Industri Kreatif Indonesia

Terlihat asik dan cool memakai jins dan kaos oblong ke kantor, namun dalam deadline yang keterlaluan dahsyatnya. Datang pagi, siang meeting, sore kongkow dulu, malam balik kantor kerja, malam kalau bisa dugem. Lingkaran yang akhirnya membuat badan kerja ekstra jauh dari yang seharusnya. Kebiasaan kerja malam hari terkadang akhirnya men-sugesti bahwa ide-ide super kreatif akan muncul kalau kerja malam. Dikombinasikan dengan klien yang super demanded dan perusahaan yang gagal menjaga turn over karyawan sehingga kurang personel untuk meng-handle project akhirnya terciptalah persepsi bahwa SUPER OVER HARD WORK itu wajar. Tidak tidur sehari-dua hari itu wajar. Kultur kerja industri kreatif Indonesia memang kejam.

Sebagai mantan analis di salah satu top konsultan di dunia (cie ileh, nyombong dikit ah), penulis pernah juga merasakan super tight deadline yang memaksa badan bekerja hampir 30 jam tanpa tidur. Untuk keseharian datang jam 10 pagi, pulang jam 11-12 malam belum termasuk lanjut kerja sampai jam 2 pagi di rumah. Gaji besar tapi badan meradang dan berantakannya kehidupan sosial. Yah beruntung bisa pindah ke client side yang memakai jasa konsultan tersebut :p. Belajar dari pengalaman, penulis berusaha banget untuk tidak mempersulit kehidupan tim yang handle project.

Persatuan Profesi Harus Ubah Kultur Kerja Industri Kreatif Indonesia

Supaya tidak lagi jatuh korban, solusinya adalah perubahan kultur kerja. Masing-masing persatuan profesi di industri kreatif (misalnya kalau di dunia periklanan, P3I, yakni Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) harus bersatu untuk membuat kode etik yang harus dipatuhi sesama perusahaan penyedia jasa dan perusahaan pengguna jasa (klien). Kalau sesama perusahaan di satu industri sudah sepakat, ‘kekejaman’ terhadap jam kerja pekerja bisa diminimalisir. Kan apabila sesama pelaku industri sudah sepakat, klien bisa memaksa apa?

Life is like ice cream, enjoy before it melts.

Harga Kultur Kerja Industri Kreatif Indonesia: 1 Nyawa by nasionalis.me