Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

Amir Bertanya: Kenapa Orang Cina Lebih Kaya dan Sukses?

Kenapa Orang Cina Lebih Kaya dan Sukses?

Bukan maksud Amir mendiskriminasi dengan penyebutan “orang Cina”, yang dirinya maksud adalah etnis Tionghoa. Orang Cina / keturunan Cina / etnis Tionghoa apa pun penyebutannya adalah anak kandung Indonesia yang sama tinggi dan sama rendahnya dengan berbagai macam suku bangsa Indonesia. Namun, mungkin ada benarnya maksud pertanyaan Amir: kenapa orang Cina lebih kaya dan sukses ya? So, untuk kemudahan pembahasan di artikel ini perkenankan penulis untuk mendikotomi etnis Tionghoa dan non etnis Tionghoa di Indonesia agar bisa saling belajar.

Kenapa Orang Cina Lebih Kaya dan Sukses

Sebelumnya mari kita bikin obrolan ini lebih ramah terhadap statistisk. Tidak semua orang Cina / etnis Tionghoa kaya, namun relatif kepada jumlah etnis masing-masing, proporsi etnis Tionghoa yang kaya secara kasat mata memang lebih besar dari proporsi etnis lain yang ada di Indonesia. Mengapa? Mengapa ada kecenderungan etnis-etnis tertentu (seperti Yahudi, etnis Tionghoa) ‘lebih unggul’ dibandingkan etnis lainnya?

Jawabannya memang banyak faktor, namun entah kenapa dari observasi penulis (nb: penulis bukan etnis Tionghoa), keturunan Cina di Indonesia memiliki keunggulan dalam hal keuletan, kemampuan mengatur uang, dan keberanian ambil resiko.

Bagaimana pun akar akan menentukan pohonnya. Di tanah leluhurnya, peradaban Cina sudah dimulai jauuuuuh sebelum peradaban-peradaban kecil lainnya dimulai. Saat ‘orang tua’ asli Indonesia asal Indocina bermigrasi ke nusantara sekitar tahun 500 SM, peradaban Cina daratan saat itu sudah berusia 1500 tahun lebih! Saat nenek moyang kita belum bisa membaca dan menulis, orang-orang Cina daratan sudah mulai membangun Tembok Besar Cina di tahun 200 SM.

Peperangan antar kerajaan dan faksi yang terjadi selama era dinasti-dinasti di Cina juga membentuk pola pikir ‘survival for the fittest‘ yang terus menerus diturunkan antar generasi. Di tengah impitan peperangan, nenek moyang etnis Tionghoa sudah harus berpikir ulet dan berani ambil resiko untuk selamat dari berbagai intrik. Bahkan sampai era modern saat penjajah Eropa masuk, revolusi demokrasi, hingga komunisme merasuki Cina, persaingan untuk hidup terus terjadi. Pola pikir ulet dan gigih itulah yang akhirnya bercampur dengan adat dan tradisi Cina yang banyak tergambar dari puisi dan pepatah-pepatahnya. Sayangnya, di nusantara hal itu tidak banyak terjadi. Sejarah memperlihatkan peradaban kita kurang banyak menghadapi tantangan sebegitu ekstrem seperti peradaban lainnya.

Ketika terjadi diaspora populasi Cina daratan ke berbagai belahan dunia. Tantangan masih ada. Di Indonesia, tekanan dan diskriminasi yang muncul saat Orde Baru tentu menyesakkan dada etnis Tionghoa. Berbagai tuduhan dan sangkaan rasialis yang tidak berdasar membuat banyak warga keturunan harus berjuang lebih daripada mereka yang mendapatkan keistimewaan label pribumi. Namun, alih-alih ‘membunuh’ nasib etnis Tionghoa, mereka justru menjadi signifikan. Insting untuk gigih dan ambil resiko muncul.

Praktisnya di Indonesia?

Ok-lah, yang disebutkan di atas lebih merujuk pada keunggulan kultural dan pola pikir yang berasal dari nenek moyang di Cina daratan. Tapi apa bentuk keunggulan itu dalam contoh nyata pada kasus Indonesia? Penulis sudah menyebutkan tadi ada dua point yang kurang lebihnya:

  • Keuletan

Saat Orde Baru apa yang tersisa buat etnis Tionghoa selain jadi wirausahawan? Ketika kaum pribumi asyik dengan kemanjaan comfort zone yang diberikan pemerintah, banyak kaum Chinese yang justru gigih memulai bisnis. Banyak yang gagal, tak sedikit yang berhasil; namun lagi-lagi itulah yang lama kelamaan membentuk semacam kekhususan kemampuan bisnis kaum Tionghoa. Jaringan bisnis akhirnya banyak dikuasai kaum Chinese, sementara kaum pribumi sudah terlalu asyik menjadi birokrat manja atau penjual tanah leluhur.

  • Kemampuan mengatur uang & Berani ambil resiko

Kemampuan mengatur uang tentu lahir dari kebiasaan wirausaha dan berbisnis. Namun, berani ambil resiko (terutama perihal bisnis) adalah bonus besar lain yang dimiliki etnis Tionghoa. Penulis melihat pun ini adalah kelemahan besar kita yang merasa ‘pribumi’. Buat etnis Tionghoa, konsep hutang dan investasi adalah hal yang biasa. Berhutang untuk modal usaha bahkan memanfaatkan hutang untuk kebutuhan pribadi adalah hal yang biasa, selama bisa di-manage. Kalau untuk kebanyakan kita, jangankan berpikir untuk berhutang untuk senang-senang, bahkan untuk modal usaha saja berhutang kadang tidak berani. Banyak wirausaha UKM pribumi yang enggan berhutang untuk modal, dan nyaman dengan usaha yang begitu-begitu saja asal tidak punya hutang. Padahal saya pribadi lihat potensi bisnisnya besar, kalau saja mereka berani berhutang untuk memperbesar modal hingga omzetnya membesar, hakul yakin hidupnya akan jauhhh lebih sejahtera. Banyak dari kita yang justru berhutang ketika sudah tidak punya uang sama sekali untuk kebutuhan sehari-hari, yang mana akhirnya hutang tersebut tidak akan terbayar-bayar deh. Sebuah pola pikir dan konsep hutang yang berbeda sekali kan?

Sebagai seorang yang memahami konsep hutang / kredit, bahkan penulis juga heran dengan beberapa diskusi di media online. Banyak yah ternyata dari kita yang mengharamkan kartu kredit dan menganggap kartu kredit selalu menjebak tanpa mau mengenal lebih jauh. :) Saya pernah dibilang seorang teman dari luar pulau: “Ngapain sih beli kopi Rp 120.000 saja pakai kartu kredit? Gak punya duit ya? Kayak gw dong anti kartu kredit dan cuma pakai debet.” Yang dia tidak mengerti adalah: 1) saya punya jauh lebih dari cukup untuk bayar kopi tersebut secara tunai, 2) saya selalu bayar kartu kredit tepat waktu, dan 3) pakai kartu kredit itu penting untuk promo, dan saat bayar dengan kartu kredit tersebut saya dapat potongan 35% :p

So, Amir yang bertanya: Kenapa Orang Cina Lebih Kaya dan Sukses? semoga bisa sedikit terjawab pertanyaannya, dan semoga kita bisa ambil pelajarab baik tersebut.

Amir Bertanya: Kenapa Orang Cina Lebih Kaya dan Sukses? by nasionalis.me

 

  • Pieter Daniel Benggolo

    Keuletan dan pandai membaca situasi serta sigap dalam memanfaatkan kesempatan itulah kelebihan Cina

  • OGMW1988

    Bagaimana dengan persatuan antar sesama Tionghoa? menurut saya itu juga salah satu yang mendukung. Apalagi klo sesama orang Tionghoa, yang satu butuh modal, satunya yang punya bank. Pas banget tuh.. :)