Kebijakan Mobil Murah Menteri Perindustrian: Cermin Kegagalan Kabinet SBY

Kebijakan Mobil Murah Menteri Perindustrian Konyol

Entah apa yang ada di benak SBY mengetahui salah satu menterinya bikin kebijakan mobil murah. Secara nasional, kabinet SBY tampaknya tidak memiliki skala prioritas.Yang urgent bagi rakyat awam saat ini bukanlah mobil murah, tapi bahan pangan yang murah, mulai dari kedelai tempe sampai daging sapi. Yang hingga kini kekacauan harga terus terjadi.

Kebijakan Mobil Murah Menteri Perindustrian

OK-lah kalau pak MS Hidayat berkelit kalau itu bukan tanggung jawab kementeriannya. Namun, bagaimana tanggung jawab industri mobil ini terhadap urgensi penghematan konsumsi bahan bakar minyak nasional? Tarik garis linear, makin banyak mobil, makin banyak konsumsi, makin banyak impor migas, makin defisit neraca perdagangan kita, makin banyak hutang kita, lalu relakah ekonomi kita termasuk rupiah menjadi taruhannya?

Presiden SBY sepertinya tidak paham atau berusaha tidak paham atau pura pura tidak paham bahwa ada kebijakan mobil murah menteri perindustrian ini melenceng dari cita-cita penghematan migas.

Kebijakan Mobil Murah Menteri Perindustrian: Membunuh Mobil Nasional?

Penulis percaya MS Hidayat tidak sebodoh seperti yang sering dikomentarkan orang di Kompas.com maupun Detik.com. Namun agaknya MS Hidayat tidak memiliki kemampuan untuk mengerti bahwa kebijakan mobil nasional yang menguntungkan pabrikan Jepang ini justru membunuh kesempatan lahirnya “bayi” mobil nasional.

Jangankan “bayi” mobil nasional, belum sempat “terbuahi” saja industri mobnas kita sudah mati. Selama ini ada ekspektasi bahwa setidaknya kalau pun kita memiliki pabrikan mobil nasional, merek mobil nasional tersebut paling tidak bisa mengambil celah positioning mobil murah. Sayang seribu sayang, sekarang mobil murah pun bisa dibikin oleh produsen mobil mapan. Berharap mobil nasional hidup? Mimpi. Bagi penulis pribadi, kebijakan mobil murah ini jauh sekali dari visi mobil nasional.

Jakarta Korban Utama dari Kebijakan Mobil Murah Menteri Perindustrian

Ini yang lucu. MS Hidayat keblinger merasa bahwa kebijakan ini tidak akan memberatkan beban lalu lintas yang sudah ditanggung Jakarta. Jokowi yang jelas merupakan pendukung kemandirian industri mobil nasional (masih ingat ESEMKA kan?) tentu berseberangan dengan pendapat MS Hidayat. Terutama sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi memiliki visi untuk mengedepankan transportasi publik yang maju.

Alih-alih mendukung kebijakan baik Jokowi, MS Hidayat justru kepala batu dengan bilang: Kasih tahu Pak Jokowi, ini juga ditujukan kepada rakyat yang berpenghasilan kecil dan menengah, rakyat yang mencintai dia juga. Harus diberikan kesempatan kepada rakyat kecil yang mencintai Pak Jokowi untuk bisa membeli mobil murah“. Dia juga menambahkan: “Penjualannya saya minta supaya merata, di-launching di semua tempat. Jadi, ketakutan untuk kemacetan di Jakarta dan Bodetabek bisa saya mengerti, tapi agak berlebihan.

Sebuah pernyataan tidak simpatik, ofensif terhadap Jokowi, dan jelas merendahkan intelektualitas pendengarnya.

  1. Pak MS Hidayat pasti mengerti kalau mobil yang beredar secara nasional 29% nya hanya terpusat di Jakarta. Didukung oleh besarnya kalangan muda yang mampu membeli mobil seperti Ayla dan Agya, sudah merupakan kepastian Jabodetabek akan menjadi pernyerap mayoritas dari kebjakan macam ini. Kasarnya, sebuah keluarga yang tadinya sudah mempunyai 2 mobil akan menambah lagi mobilnya untuk anaknya yang masih kuliah. Produsen mobil juga tidak bodoh, mereka tahu di mana mereka harus menjual.
  2. Konsep mobil ini city car, sebuah konsep yang hanya cocok dijalankan di kota macam Jakarta dan Bodetabek kan? Memangnya mau memakai mobil macam ini di Sukabumi? Orang-orang di sana kalau pun membeli mobil akan memilih mobil berukuran lebih besar agar nyaman dipakai jarak jauh dan dapat membawa banyak keluarga.
  3. Yang paling tidak mengenakkan adalah seakan MS Hidayat membentrokkan antara Jokowi dengan masyarakat dengan bilang Harus diberikan kesempatan kepada rakyat kecil yang mencintai Pak Jokowi untuk bisa membeli mobil murah”. Menteri kok bicara seperti ini? Apakah dia tidak pernah membuka berita kalau Jokowi ingin mengurai kemacetan dengan berfokus pada transportasi umum.

Jokowi dan Kebijakannya Jadi Sasaran Tembak

Inilah menjadi peringatan bagi Jokowi dan terutama masyarakat. Rakyat harus mampu membedakan mana pemimpin yang punya keberpihakan pada masa depan bangsa mana yang tidak. Mana yang punya visi dan mana yang tidak. Tentu saja ini bisa dimaknai sebagai kerja ekstra bagi Jokowi untuk menanjak di Pilpres 2014. Secara khusus, Jokowi dan rakyat Jakarta harus bekerja sama untuk mengatasi kemacetan walau ada banyak hal yang justru kontraproduktif. Sebagai tambahan ini adalah contoh kesekian kalinya dari kegagalan Kabinet SBY untuk menyamakan visi kebijakan nasional.