Menyoal Komersialisasi, Tarif Dakwah Ustadz: Profesi Tak Lagi Prospektif

Kali ini bukan soal mobil mewah Lamborgini atau mantan istri, tapi soal tarif dakwah Ustadz Solmed yang akhirnya menimbulkan polemik dengan para TKI di Hongkong. Artikel ini tidak bertujuan membahas pantas tidaknya tarif dakwah yang diterapkan para pemuka agama maupun ustadz karena penulis yakin fakta bahwa ada yang membayar mereka dengan harga tinggi, memberi arti bahwa secara komersil memang ada supply-demand. Penulis malah lebih tertarik seberapa menjanjikan profesi ustadz bertarif dan prospeknya di masa depan?

tarif dakwah ustadz

Tarif Dakwah Ustadz Komersil Membangkitkan Trend dan Persaingan

Saat ini sampai 5 tahun ke depan mungkin adalah masa keemasan profesi Ustadz komersil. Tanpa perlu menyebut nama, jelas keglamoran yang sangat mencolok ditampilkan para dai-dai seleb tersebut. Mulai dari rumah super gedong, baju baju mengkilap, motor gede, hingga mobil super mewah. Yap, ini adalah masa di mana over demand terhadap ustadz seleb terjadi sehingga dai-dai komersil yang ada sekarang menikmati kondisi “mirip monopoli” sehingga mampu menetapkan tarif setinggi langit.

Kecenderungan kemudahan hidup ustadz seleb akan membuat silau banyak mata, termasuk anak-anak kecil. Sebab itu, sangat mudah sekarang menemukan banyak remaja tanggung sampai anak-anak kecil yang digodok orang tuanya untuk menjadi ustadz seleb kecil-kecilan, baik melalui acara-acara kelas RT sampai lewat acara kompetisi dai cilik di televisi.

Apakah sulit menjadi ustadz? Well, sama seperti pendeta komersil, saya merasa bahwa tidak terlalu sulit apalagi untuk bercuap-cuap menjual ayat suci yang mana orang-orang tak akan berani bantah. Ini juga diperkuat oleh banyak netizen-netizen muslim yang menyebutkan beberapa nama ustadz seleb sebenarnya ilmunya masih amat dangkal, jauh sekali jika dibandingkan dengan ustadz panutan seperti ust. Quarish Shihab. Kemudahan akses menjadi ustadz seleb inilah yang membuat banyak orang bercita-cita meraih sebutan ustadz (seleb).

Semakin Menjamur, Profesi Ustadz Tak Lagi Prospektif di Masa Depan

Sayangnya, kemudahan mencapai standard ustadz seleb itulah yang akan menyebabkan profesi ini tak lagi menjanjikan di masa depan. Sekarang ini, hanya ada beberapa nama besar ustadz seleb, tapi 5 tahun lagi pasti akan muncul segambreng nama-nama baru meramaikan persaingan.

Persaingan antar ustadz seleb inilah yang suatu hari nanti akan automatically kills (secara otomatis membunuh) profesi ustadz seleb. Semakin banyak ustadz komersil, berarti semakin keras persaingan. Semakin keras persaingan, tarif panggilan ustadz juga akan bersaing ke harga yang lebih rendah. Ujungnya, penghasilan profesi seorang ustadz seleb akan semakin kecil di masa mendatang.

Jadi, untuk Anda yang mendambakan anak Anda menjadi “artis” lewat jalur ustadz seleb, lebih baik pikir lagi. 10 tahun lagi, profesi ustadz seleb tidak akan selaku sekarang.

Tarif Dakwah Ustadz Komersil adalah Cerminan Masyarakat yang Juga Komersil

Jangan salahkan ustadz seleb maupun pendeta komersil. Mereka adalah buah dari masyarakat yang juga komersil.

Banyak pendeta juga amat komersil terutama di gereja-gereja yang menekankan kesuksesan finansial sebagai cerminan berkat Tuhan. Komersialisasi ayat Tuhan bisa terjadi akibat umatnya yang juga komersil, menyembah Tuhan berharap semata-mata keberlimpahan materi dan bonus Sorga.

Ingat lagunya Ahmad Dhani: Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau tunduk kepada-Nya?

Beriman kepada Tuhan itu memang karena sepenuhnya cinta pada Pencipta. Kalau beriman kepada Tuhan semata-mata cuma ingin dapat bonus masuk Surga, apa bedanya dengan orang yang beriman kepada Tuhan karena ingin jadi kaya? Sama-sama komersil. Wajar kalau pendeta, ustadz, dan alim ulama juga jadi komersil.

Tarif dakwah ustadz by nasionalis.me