Refleksi tentang Agama dan Eyang Subur

Kisah maraton dari Eyang Subur bener-bener intermezo menarik dari berbagai macam polemik sosial politik yang beredar di tivi. Sebuah kisah yang mencengangkan karena nunjukkin betapa sebagian besar kita percaya kepada sesuatu yang di luar agama-agama resmi Indonesia. Yah banyak sih sebenernya yang mencengangkan lainnya, kayak “ternyata ada orang yang gak jelas kerjaan / bisnisnya bisa punya banyak duit buat dibagi”, juga “kisah seorang arya wiguna yang sebegitu dendemnya dan perlu belajar ttg anger management”, hingga “arya wiguna akhirnya jadi terkenal”.

Cuma balik ke yang mau saya bicarakan: ada hal yang sangat menarik untuk dipelajari yakni kemungkinan asal muasal banyak agama dari kisah Eyang Subur (bisa juga Lia Eden). Berangkat dari kepercayaan bahwa iman merupakan sum zero game, di mana kalau agama X yang benar berarti agama Y salah, berarti juga kalau tuhan di agama X benar nyata bahwa tuhan yang dijunjung agama Y pasti salah. Kalau iman Kristen benar maka iman di non Kristen sia sia karena bokis gede, kalau Islam benar adalah agama Pencipta maka semua non muslim adalah dongeng belaka.

Gimana gak menarik, case Eyang Subur memberikan simulasi nyata sebuah cikal bakal pengkultusan terhadap suatu individu / tokoh yang di jaman baheula dulu menjadi sebuah potensi awal sebuah organisasi relijius atau agama. Bayangin, di tengah mapannya agama Samawi di Indonesia dan dalam era keterbukaan informasi, bisa tercipta kepercayaan baru yang absolute di tengah sebagian orang (yang juga berpendidikan) bahwa Lia Eden merupakan jelmaan malaikat gabriel atau bahwa Eyang Subur yang dianggap seperti nabi. Bayangin itu terjadi di abad 21.

Pernah gak berpikir bahwa proses yang sama juga mungkin merupakan awal terbentuknya hampir seluruh agama di dunia? Hindu? Budha? Yahudi? Kristen? Islam? Sikh? Mitologi Yunani? Atau agama yang Anda peluk sendiri?

Bagaimana kalau agama yang Anda peluk sekarang diawali oleh seorang manusia narsis berpesona yang kebetulan memiliki kecerdasan dan kelihaian berkata kata, sehingga ia mampu meyakinkan orang harus mengikut jalan hidupnya? Bagaimana kalau agama yang Anda peluk awalnya adalah sebuah komoditas politik dan pencarian keuntungan semata yang akhir benar benar terlanjur besar dan mapan? Bagaimana Anda yakin bahwa segala muzizat yang katanya ada di kitab suci benar benar terjadi, padahal, well, have you ever seen it by your own eyes?

Sebagai seorang pemeluk Kristen saya membebaskan pertanyaan pertanyaan seperti ini menguji kebenaran iman saya sendiri. Tentu saja, banyak referensi yang juga berhipotesa bahwa politik melatarbelakangi kemapanan kekristenan hingga mampu bertahan hingga abad ini.

Ada sekedar bilang bahwa sebenarnya Yesus adalah orang ‘aneh’ yang gak signifikan di jamannya, yah orang baik cuma kebetulan agak revolusioner hingga harus dihukum. Tapi ya kejadian yang melibatkan penyaliban itu yah gak seramai yang dibayangkan, bahkan jangan jangan cuma komunitas lokal sana yang tahu. Pihak kerajaan Romawi pun tidak memperhitungkan Yesus sebagai sebuah hal yang penting untuk dipikirkan. Pihak Yahudi pun biasa biasa saja pada saat itu, benar bahwa Yesus dianggap “musyrik” yah tapi biasalah melihat orang seperti itu, toh? Jdi ga penting penting banget. Hipotesisnya berlanjut: karena segelintir murid Yesus yang gigih pada akhirnya kisah Kristus menjadi sebuah sempalan agama yang cukup signifikan untuk dianut beberapa pihak. Termasuk penduduk miskin di ibu kota Roma.

Beberapa kali kekristenan dihajar habis oleh pihak kerajaan, namun agama ini terus menjalar. Hingga sampai pada zaman Kaisar Agustinus, ia berpikir: kenapa kekristenan gak dijadiin agama negara saja? Bagus juga untuk persatuan dan kesatuan kan? Sekedar info, pada jaman itu ada ribuan agama penyembah dewa di roma yang tentu aja bisa jadi konflik. Akhirnya, jadilah kristen menjadi agama resmi di kekaisaran roma di tahun 300an yang memudahkan penyebarannya ke seluruh penjuru dunia.

Well, yang dibilang oleh sejarawan kristen, alkitab, dan para pendeta tentu saja berbeda. Tergantung subjektifitas masing masing, yang mau saya sampaikan adalah bagaimana sebuah agama bisa berkembang hanya dari akumulasi kejadian kejadian kecil yang gak penting. Bisa saja kan Yesus adalah Lia Edennya atau Eyang suburnya jaman dulu? Yang kebetulan ajarannya eksis sampai sekarang?

Gak cuma kekristenan, hindu dan budha Islam dan lainnya juga punya berbagai hipotesis rasional seperti di atas. Hindu yang mendukung kasta tentu saja sangat menguntungkan kn untuk stabilitas kerajaan di India? Apa gak mungkin ada chance itu merupakan agama yang terbentuk dari kreasi politik? Itu juga yang bikin kenapa justru agama Budha yang lahir di India malah berkembang pesat di China, ya karena gak didukung politik raja raja India lah… Rugi banget sistem kasta diganti oleh filosofi kesamaan semua umat manusia. Sebagian referensi merasionalisasi Islam juga. Agama yang katanya diadopsi dari kepercayaan nasrani (well nasrani adalah kristen yang juga gak sesuai dengan awal ajaran Alkitab) memang punya potensi yang juga gede untuk mempersatukan dan menaklukan politik suku suku arab yang terpecah pada saat itu. Apalagi dengan “update” terhadap kekristenan, Islam menjadi sebuah modernitas dan trend sendiri di jamannya.

Dan tentu saja seperti tipikal eyang subur dan lia eden pembawa agama agama pasti merupakan orang ornag visioner yang kadang megalomaniak dan memiliki paham kebesaran.

Sekali lagi, tapi itu semua harus balik ke keyakinan masing masing, semua bisa saja dirasionalisasikan. Karena kebenaran pasti ada walau satu di antara sejuta. Jangan salah bilang sesat. Karena bagaimana hayo kalau yang Lia Eden klaim memang benar? Atau yang Eyang Subur yakini justru kebenaran? Malah yng kita percaya yang salah? Semua bisa terjadi tergantung bagaimana kita mengujinya.

Ya bisa juga keduanya salah, tapi siapa yang tahu di tahun 3000 ternyata Lia Eden atau Eyang Subur dianggap sekelas nabi? Yah apa yang hidup di jaman sekarang belum tentu tetap hidup 10.000 tahun lagi kan? 3000 tahun lalu mitologi yunani menjadi agama banyak orang, tapi sekarang apa masih ada terkecuali tersisa di buku buku sejarah? Siapa yang bisa meyakinkan bahwa Islam, Kristen, Budha, Hindu, Yahudi, dsb bisa bertahan ribuan tahun dari sekarang. Semua ada masa dan jamannya masing masing, yang tidak benar akan terkikis. Kristen dan Islam mungkin mayoritas sekarang, tapi apa masih ada yang memelukny di 100 abad dari sekarang? Atau justru digantikan oleh nabi nabi baru yang agamanya sendiri nanti akan berkembang?

Kebenaran cuma bisa diuji oleh waktu.

  • http://foxydiba.wordpress.com/ Faradiba Achmadi

    Saya suka opininya

    • MendinganManaID

      thankssss…..!

  • rudy

    Pemikiran yang bagus. Saya punya usul. Bagaimana jika Anda memulai perenungan Anda dari hal – hal yang kecil misalnya bagaimana otak Anda mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran yang brilian seperti ini. Mudah-mudahan Anda diberikan peluang untuk melihat apa yang tersembunyi dari pemikiran Anda. Good luck.

  • samba

    Kalo anda masih berandai-andai dengan pernyataan bagaimana kalo a dan kalo b dan seterusnya berarti anda belum beriman sepenuhnya terhadap apa yang ada imani saat ini, atau yang diimani oleh orang lain…

    well sebagai seorang muslim i said” Untukmu agamamu untukku agamaku”
    Peace bro

  • udin

    gile lu ndro

  • artsinned

    hahahaha…. jawaban dari semua pertanyaan anda… hanya seorang yang tahu semuanya…
    dia adalah…. ” Anda sendiri” ….. hahahahaha…