Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

Resep dari Roma sampai Jakarta

Saat Anda tidak cukup punya kharisma, satu-satunya jalan untuk menyatukan orang-orang adalah mencarikan musuh bersama untuk mereka

Agak terkejut ketika mendengar bos saya mengatakan sebuah pemikiran yang sempat melintas di kepala saya sekitar 5-6 tahun yang lalu. Mungkin ini sebuah rumus generik yang dimiliki oleh para politikus ulung.

Mulai dari Hitler sampai Bush Jr., dari Roma sampai Jakarta, dari Nero hingga Soekarno tahu ini: Persatuan muncul karena rasa senasib ~ rasa senasib paling mudah dimunculkan karena dari perasaan takut ~ perasaan takut bisa dimunculkan dari adanya musuh bersama ~ musuh bersama bisa dibuat.

Hitler sepertinya menyatukan rakyat dengan jualan tujuan demi superioritas ras Arya Jerman di dunia. Tapi kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya yang menjadi pemersatu bukan kesamaan visi, tapi : Yahudi. Hitler dengan brilian membuat propaganda mencengangkan dengan meletakkan semua kegagalan Jerman pada perang dunia I kepada orang Yahudi. Dia bilang Yahudi pengkhianat bangsa. Jerman pribumi jadi bersatu karena ini.

Demikian pula Nero dengan musuhnya kekristenan, atau Soekarno dengan sang musuh imperialisme / kolonialisme, atau Soeharto dengan orang-orang komunisnya, atau Bush Jr. dengan Islamis radikal.

Praktek Rezim Orde Baru (*)
Kata orang, saat jaman Soeharto dulu, bicarakan soal komunis saja harus bisik-bisik saking takutnya. Komunis jadi sebuah monster yang menakutkan dan menjijikan. Pada waktu itu, komunisme menjadi sebuah kejahatan yang acapkali maknanya menjadi baur dengan atheisme.

Tapi lihat sisi positifnya dari mata penguasa: mereka mendapatkan dukungan rakyat yang ketakutan untuk memastikan tidak boleh lagi komunis-komunis muncul. Dan konteks inilah yang berusaha terus dijaga oleh rezim berkuasa pada waktu itu untuk terus relevan sepanjang waktu berlalu. Berpuluh tahun semenjak kematian banyak orang PKI, penataran, propaganda film, dan jualan kecap cap paranoid terus dibombardir oleh pemerintah.

Benang Merah
Namun, takaran dari resep di atas harus pas. Dan, layaknya makanan, tidak boleh “dimasak” terlalu lama; karena cepat atau lambat orang-orang yang “termanipulasi” akan sadar bahwa masakannya sudah “gosong”.

Isu yang diusung juga harus spesifik. Semakin spesifik golongan musuh yang dituju, semakin mudah orang-orang yang memiliki ketakutan yang sama akan terafiliasi.

Masalah geografis (baca: kedekatan) si musuh juga penting. Semakin dekat keberadaan si musuh berarti persatuan adalah hal yang urjen untuk dilakukan. Pembasmian harus cepat dilaksanakan dan konteksnya bisa dijaga untuk jangka waktu yang lebih panjang. Perhatikan Soekarno, saat tahun 60′an kolonialisme dan imperialisme sudah semakin tidak laku sejalan jauhnya jarak antara masyarakat dengan si musuh. Tak heran, Soekarno lebih sulit mendapatkan mandat.

Atau Bush Jr. yang mengincar ‘mangsa’ di luar Amerika. Proses manipulasi lebih sukar dieksekusi dan konteksnya menjadi lebih blur.

Saat seseorang berusaha menciptakan musuh untuk Anda dan bilang dia punya musuh yang sama dengan Anda – dia sedang me-manipulasi Anda.