Tabrakan Anak Hatta Rajasa: Bisa gak Rasyid Rajasa Mencontoh Saipul Jamil?

Mobil Rajasa BMW X5“Mana ada sih yang berniat mencelakai istri sendiri?” mungkin itu kata-kata yang terbersit di benak  Saipul Jamil saat doi di-vonis 5 bulan atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian istrinya pada sebuah kecelakaan tunggal di tol Cipularang 2 tahun silam. Ibarat kata, Saipul sudah jatuh tertimpa tangga dipatuk ular juga. Tapi toh, se-lebay-lebay sikap Saipul bila sedang ada di layar kaca, toh doi tetap gentle menghadapi vonis tersebut. Tanpa banyak berkelit, keberanian doi bertanggung jawab perlu banget diapreasiasi. Padahal, kalau saya buka-buka lagi berbagai arsip berita online, banyak media yang justru seperti menjadikan pemberitaan Saipul seperti bulan-bulanan. Yah mungkin karena imej doi yang agak-agak gimana gitu (baca: lebay dan dangdut) jadi banyak pihak tega “menghabisi” bang Ipul. Tapi toh, pada akhirnya dia tampil selayaknya pria kan? Dia menghadapi vonis!

Sekarang, berita yang agak mirip-mirip muncul lagi. Tapi bedanya ini dialami oleh anak pejabat Menteri Perekonomi Hatta Rajasa yang digadang gadang merupakan calon presiden 2014, yaitu Rasyid Rajasa. Bocah 22 tahun yang mengendarai BMW X5 ini kabarnya “menyundul” mobil Luxio hingga orang-orang di dalamnya kelempar keluar. Terakhir, 2 orang dikabarkan menjadi korban jiwa.

Beberapa kronologis (yang belum tentu bener) nyebutin bahwa si Luxio sebenernya berjalan hanya 80 km/jam di jalan tol, nah loh tapi kesundul sampai penumpangnya terlempar keluar. Pertanyaannya berapakah kecepatan mobil Rasyid yang harganya sampai milyaran tersebut? Prasangka buruk juga banyak mencuat di media online, mulai dari isu ngantuk sampai mabok. Maklum, selain persepsi anak pejabat yang suka foya-foya masyarakat juga udah begah dengan beberapa kecelakaan mobil akhir-akhir ini yang selalu melibatkan pengemudi mabuk atau narkobaan. Mulai dari Afriyani sampai Livina Maut.

Hari ini sih, di detik.com dibilangnya si Rasyid lagi beristirahat dulu di ruang President Suite RSPP karena mengalami trauma parah dan kebingungan akan masa depan dirinya. Wajar sekali mengingat Rasyid sedang menimba ilmu di London dan di berita ditulis dirinya dalam waktu dekat harus balik ke London untuk ujian. Inilah mungkin yang bikin Rasyid stress. Soal ngantuk, kabarnya diakibatkan oleh Rasyid yang meminum obat maag sehingga membuat dirinya mengantuk saat nyetir.

Tapi ya sudahlah, esensinya bukan tentang siapa Rasyid dan bagaimana perilaku bocah 22 tahun pengendara BMW X5 tersebut. Tapi justru tentang, seberapa berani putra Hatta Rajasa ini berani bertanggung jawab atas kecelakaan yang telah membunuh 2 orang sia-sia. Bertanggung jawab bukan selalu atas apa yang disengaja, tapi juga atas kelalaian yang gak disengaja. Polisi kali ini juga dituntut kredibilitasnya, apakah berani menyidik bocah ini selayaknya polisi dengan gagah berani mengusut tuntas kasus Afriyani? Apakah pak Polisi mampu secara transparan menyingkap kelalaian penyebab kecelakaan ini salah si Rasyid atau salah si pengemudi Luxio atau salah empunya jalan Tol atau salah produsen Daihatsu Luxio atau salah penjaga gerbang tol yang ngasih Luxio modifikasi masuk tol sehingga menghalangi jalannya mobil Rasyid?

Sementara ini sih justru arah angin agak berbeda. Justru kok DETIK.COM seakan meng-agung-agungkan kegagah-beranian penabrak saat berani turun menolong? Bukannya memang harus begitu ya? Afriyani yang konon waktu nabrak masih mabok juga turun kok sehabis nabrak. Gimana sih ini? Selain itu juga apa sih pentingnya berita berbau pencitraan yang meng-counter prasangka buruk masyarakat? Sudah terlalu hobikah dengan pencitraan?

Intinya: semisal penabrak memang adalah anak polos, pinter, baik, komunikatif, jujur, iklas, gak pernah merokok, dan lainnya itu gak penting kok. Yang penting, harus berani. Contoh Afriyani, doi berani minta maaf langsung di depan media. Contoh Saipul Jamil, doi berani bertanggung jawab selayaknya laki-laki.

  • Achmad Mastuh

    Pepatah Jawa mengatakan kacang ora ninggal lanjaran, perbuatan anak tidak jauh dari orang tuanya,coba Departemen mana saja yang tidak pernah dipimpin bapaknya, Confusius pernah berkata apabila suatu pekerjaan ditangani bukan ahlinya tunggu saja kebobrokannya, pada saat dia di Dep Hub berapa pesawat, kereta,kapal yg kecelakaan apa tanggung jawabnya? ya itu diturun anaknya kurang bertanggung jawab!

    • Hold

      jangan bawa bawa bapak….., gak ada hubungannya. sudah dewasa dan personal.

  • Muha

    wow, saya cukup salut dengan ulasan ini. Bukan soal itu dan itu, tapi soal keberanian bertanggung jawab. Sebenernya saya agak mengharapkan adanya ulasan mengenai fitur keselamatan mobil luxio, apakah yang menumpang menggunakan sabuk pengaman, dll, karena tabrakan tsb bisa dibilang ringan tapi akibatnya sangat fatal. Saya sama sekali ga bisa menyalahkan anaknya pak Hatta karena dia menggunakan mobil yang fitur keselamatannya tinggi, soal ngantuk, mabok, dll, bapak saya juga kalo nyetir ngantuk terus :( padahal ga minum apa2, ga makan apa2, ga begadang.