“Cinta” Segitiga Partai Demokrat: Pemecatan Ruhut sang WatchDog, Kartu Truf Anas, dan Ketersudutan SBY

Pemecatan sang Significant Boy

Belakangan ini Demokrat kayak sedang nari dangdut gotik alias goyang itik. Goyang geol-geol kiri kanan kecacingan gak keruan. Setelah kader-kader terbaik partai bikinan pak sir presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini resmi menjadi tersangka kasus korupsi (sebut aja Nazarudin, Anggelina Sondakh, Andi Malarangeng), sekarang Demokrat lagi digaplok kontroversi kisruh internal pemecatan Ruhut Sitompul dari posisi sebelumnya sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika Partai Demokrat (baca: semacam jubir).

Pemecatan ini gak heran jadi sorotan publik mengingat sosok vokal Ruhut Sitompul yang sangat setia kepada majikannya sir Susilo Bambang Yuhoyono. Di kesempatan mana pun, untuk isu bagaimanapun, Ruhut selalu seakan siap mati membela SBY. Kalau sering nonton ILC (Indonesia Lawyers Club) yang ada di TVOne atau acara diskusi politik lainnya di TV, kamu juga pasti suka gemes kan kenapa si Ruhut bisa seloyal itu kepada SBY. Bisa dianalogikan, Ruhut itu seperti “anjing” setia sang majikan. Terlepas kadang-kadang Ruhut suka bicara ngasal, poin kedua kelebihan Ruhut adalah mengenai dirinya yang relatif bersih dari keterkaitan dengan isu-isu korupsi yang santer melingkupi partai lambang mercy ini.

Dari perspektif SBY dan Demokrat, Ruhut sebenernya adalah aset yang sangat langka dan berharga. Loyalitas, ke-vokal-an yang kadang gak pake malu, dan semangat harakiri membela SBY dan Demokrat gak akan lagi gampang ditemukan pada politisi lain, bahkan sifat di atas juga tidak bisa ditemukan pada diri Anas. Benar-benar sebuah kehilangan besar untuk partai Demokrat.

Lalu Kenapa Ruhut dipecat Anas?
Alasan paling masuk di akal perihal pemecatan Ruhut adalah karena dirinya sering meminta Anas untuk mundur akibat seringnya diri Anas disangkakan terkait dengan beberapa kasus korupsi. Tentu saja untuk Anas melengserkan Ruhut adalah sesuatu yang valid. Apalagi sedikit banyak pasti Ruhut taulah apa aja sih yang sebenernya Anas Urbaningrum sudah perbuat. Gak mungkinlah Ruhut Sitompul gak punya informasi mengenai sepak terjang Anas selama ini, inilah yang amat ditakutkan Anas. Konon, banyak juga pendukung Anas yang menyuarakan hal yang sama karena gerah sama vokalitas si raja minyak, karena ibarat efek domino, sekali Anas Urbaningrum jatuh atau benar-benar terbukti terkait kasus korupsi, pastilah sebagai pendukung Anas mereka juga bisa terseret. Jadi sekarang lah saat nya menyingkirkan whistle blower.

Posisi SBY terhadap Pemecatan Ruhut

Yang justru ngebuat heran adalah sikap SBY yang sejauh ini masih berdiam diri saja dengan Anas yang memecat Ruhut. Kayak angin, sikap SBY justru gak terlihat gak terasa seakan gak tegas dan tersudut. Padahal, loyalitas Ruhut gak bisa terbantahkan sudah digadaikan hanya untuk SBY dan Demokrat. Lha ini kok, ketika Ruhut dipecat malah dibiarin?
Ini yang menciptakan banyak dugaan jangan-jangan benar bahwa sebenarnya pihak yang paling tersandera saat ini bukanlah Ruhut, bukanlah Anas, atau siapa pun. Alih-alih, yang tersandera justru adalah Susilo Bambang Yudhoyono sendiri. Gak sulit, ini menciptakan teori “terka-terka” di sebagian masyarakat bahwa memang benar Anas Urbaningrum memiliki KARTU TRUF yang siap dimainkan sehingga bisa sewenang-wenang memecat Ruhut Sitompul yang bahkan merupakan golden boy-nya SBY sendiri. Beberapa politikus amatir warung kopi bahkan berseloroh, jangan-jangan Anas Urbaningrum terlalu tahu banyak apa-apa tentang SBY dan Ibas sehingga sekarang bisa menyetir total partai.

Apapun itu, yang Anas Urbaningrum lakukan sebenarnya bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi bisa berujung makin terkonsolidasinya partai Demokrat, namun di lain sisi juga bisa menjadi jurang akhir Partai Demokrat. Pemecatan Ruhut bisa memulai kisruh internal partai Demokrat yang lebih parah lagi yang akhirnya justru habis-habisan menggembosi Partai Demokrat, dan gak lain juga ikutan menggembosi Susilo Bambang Yudhoyono sendiri.

Reaksi Ruhut?

Yang paling memungkinkan dilakukan Ruhut adalah wait-and-see. Menjadi loyalis yang akhirnya ditendang keluar adalah lebih menyakitkan dibandingkan menjadi musuh yang dipenggal mati. Gak heran, sangat memungkinkan kalau bang poltak akhirnya menyengat balik Anas Urbaningrum. Ya, ini pilihan yang sangat menguntungkanlah buat rakyat Indonesia, karena ini bakalan makin nunjukkin hitam-putihnya politisi. Di berbagai forum internet banyak simpati yang diberikan untuk Ruhut untuk terus maju dan menyingkap segala sesuatu yang masih tersembunyi jauh di bawah tempat tidur. Benarlah, ini sungguh-sungguh kegilaan untuk memecat Ruhut. Ruhut adalah bola liar panas yang sedang bergulir, paling tidak untuk Karni Ilyas, ini adalah topik yang sangat panas untuk segera ditampilkan di ILC TVOne berikutnya!


  • ari ambasa

    SBY & Ibas di Partai Demokrat. Apakah ini nepotisme?