Opini Berita Politik Terkini Indonesia & Referensi Situs Pemilu 2014

Aburizal Bakrie alias Ical vs. Akbar Tandjung

mendingan mana aburizal bakrie

 

 

 

 

 

 

 

 

Akbar Tandjung memang licin kayak belut. Untuk sekarang ini, kaliber politiknya hanya pernah bisa dijinakkan oleh Jusuf Kalla. Berita paling update: ARB alias Aburizal Bakrie pun gak cukup robust untuk menahan geliat manuver dari internal Golkar yang diusung sama Akbar Tandjung untuk “menggoyang” pencalonan Ical.

Logika Akbar Tandjung gak sesulit manuver lihainya untuk dipahami. ARB alias Ical memang hanya punya peluang yang kecil banget untuk mendapatkan tahta presiden 2014. Padahal, di lain sisi partai Golkar sebagai pengusung justru lagi bagus-bagusnya karena mendapatkan pelarian suara dari partai Demokrat yang lagi kena prahara. Dari suvery yang dilakukan oleh LSI (hasil survey bisa di download gratis di sini), keliatan popularitas Aburizal baru mencapai 66%, di bawah Wiranto (72%) dan Prabowo (78%), dan bahkan jauh banget di bawah Jusuf Kalla (88%). Elektabilitas Ical yang hanya sekitar 3% juga masih di bawah perolehan Jusuf Kalla.

Ketertinggalan Ical dalam popularitas dan elektabilitas ini juga berkaitan erat dengan “permasalahan” yang mendera Ical terkait dengan beberapa kontroversi dirinya. Masih inget kan betapa Ical dipersepsikan terkait erat dengan kasus lumpur Lapindo? Belum dengan persepsi goreng-gorengan saham? Atau dengan beberapa kontroversi pernyataan ARB dulu banget yang terkesan minim empati pada rakyat? Inilah yang kayaknya ngedorong sekuat apa pun Ical berusaha dan menghabiskan dana iklan, rakyat sudah males menjatuhkan pilihan pada Ical.

Sementara, sebenarnya Golkar memiliki kader yang jauh lebih potensial dibandingkan Aburizal Bakrie yakni Jusuf Kalla. Kinerja Jusuf Kalla yang taktis sangat disukai rakyat karena sederhana namun efektif. Bahkan SBY pun kala itu agak “kesel” karena merasa bahwa rakyat lebih mengapresiasi kinerja JK dibanding dirinya sebagai presiden.

Sayangnya, JK sudah keburu “tutup toko” kalau mau dipinang sebagai wapres oleh Ical. JK sudah bilang dia hanya bersedia dipinang sebagai wapres jika dan hanya jika presidennya adalah Megawati Sukarnoputri, lain dari itu JK enggan. Maka itu bisa dipahami manuver Akbar Tanjung yang “sepertinya” lebih menginginkan kalau calon Golkar adalah calon yang jelas-jelas potensial seperti JK, jangan tokoh kerekan seperti ARB yang dikerek sekerek-kereknya juga gak akan terkerek. Akabar mengerti sekiranya JK bergabung dengan Mega, mereka akan menjadi calon pasangan yang sangat kuat terpilih akibat popularitas Megawati di Jawa dan kuatnya dukungan setia Surkanois sementara JK yang dipastikan banyak mendulang suara Non-Jawa terutama Indonesia Timur.

Sekarang ini, alternatif solusi buat Ical hanyalah dua: 1) terus spending biaya iklan dan promosi, 2) berusaha menggandeng berbagai cawapres yang sedang hot di tengah masyarakat, mungkin seperti Mahfud MD atau Dahlan Iskan. Namun, trust me, itu gak akan nolong, bayang-bayang Ical terlalu kelam untuk disinari cawapresnya. Oleh karena itu, sebagai non-simpatisan Golkar mari kita nanti-nanti gebrakan Akbar Tandjung untuk me-review pencalonan ARB. Siapa tahu Golkar bisa menelurkan pasangan yang jauh lebih pantas: JK-Mahfud MD misalnya?

  • Bantu dukung kami dengan LIKE & FOLLOW sosial media kami sembari menyebarkannya ke teman-teman kamu. Thanks!
  • Nasionalis.me berfokus pada opini politik yang disajikan dengan lugas dan gamblang. Sekarung subjektifitas akan menghasilkan objektifitas dengan sendirinya.