Good Cop Bad Cop ala Jokowi-Ahok

Pernah denger istilah “Polisi Jahat”? Suatu ketika sehabis pelantikkannya, Ahok wagub DKI Jakarta berseloroh akan menjadi “Polisi Jahat”-nya gubernur Jokowi. Nah, apa sih maksudnye?

Cius, ini adalah suatu taktik yang umum dipakai di perusahaan konsultan. Dalam menghandle klien biasanya sebuah tim konsultasi akan  “berbagi” peran dalam menyikapi si klien. Ada yang jadi bad cop, ada yang jadi good cop. Ceritanya dulu pas saya jadi konsultan, saya dan bos saya juga berbagi peran ini secara alamiah. Bos saya jadi bad cop, sedangkan saya jadi good cop. Kurang lebih perbedaan peran saya dan bos adalah: bos menjadi negosiator yang tough, sedangkan saya menjadi yang lebih penetrable. Ini nyiptain kondisi di mana si tim konsultan mampu lebih “menyetir” sang klien. Misalkan satu situasi:

(Kondisi: sebelumnya kami propose harga project sebesar 10 M kepada klien, di mana sebenarnya itu sudah termasuk 50% gross margin. Harga sebenarnya bisa ditawar klien sampai level 10% gross margin, dengan harga segitu pun kami masih mau terima. Sekarang objectivenya adalah menciptakan kondisi tawar menawar di mana klien tidak menawar kejauhan dari harga proposal awal.)

Klien: (menawar langsung dengan bos) Bagaimana kalau 7 M?
Bos: Tidak bisa, harga mati.

Situasi tersebut akan menciptakan deadlock dan si klien akan desperado karena tidak mendapatkan sedikit pun ruang. Maka secara alamiah dia akan mencoba cari “jalan” untuk membuka ruang nego dengan menghubungi saya.

Klien: Si bos galak ya, mosok ga mau turun sama sekali. Saya cuma nawar jadi 7 M kok. Tolonglah dibantu, bosnya galak banget.
Saya: (dengan gaya penuh attention dan penuh perhatian (*_*)) iya memang dari dulu si bos begitu, kalau memang harganya sudah bagus, reaksi dia akan begitu kalau ditawarnya keterlaluan mas.
Klien: Oh memang ga bisa 7M?
Saya: Serius mas, itu harga sudah bagus loh. Paling jauh kita bisa potong 500 juta. 9,5 M untuk project sebesar ini sudah sangat affordable.

Singkat cerita akhirnye si klien percaya. Dan mereka mengirim persetujuan proposal akhir dengan nilai 9,5M! Trik ini sebenernya sangat umum dilakukan secara alamiah tapi tidak dengan kesadaran. Dengan membubuhkan sedikit strategi, good cop bad cop akan memberikan banyak keuntungan bagi tim. Buktinya, ada bekas dosen saya yang juga pernah melanglang buana di McKinsey mengaku juga melakukan taktik ini, dan efektif.

Jokowi dan Ahok tentu lebih ahli lagi. Mereka mengerti psikologi para jajaran di bawahnya yang mungkin tukang lapor, tukang ngadu. Sebagian dari mereka mungkin akan mengadukan hal-hal yang tidak benar juga. Ingin mengetahui lebih jauh pola pikir dan hal yang sebenarnya terjadi di lapangan, maka itu Jokowi menjadi Good Cop, sementara Ahok jadi Bad Cop.

Gak heran, di hari ini ada berita Jokowi menerima aduan dari jajarannya yang menganggap Ahok berbicara terlalu keras. Siapa tahu, ya, siapa tahu, orang yang mengadu tersebut adalah jajaran yang takut Ahok membuka kebobrokan kinerja mereka selama ini. Jokowi punya chance untuk menelisik lebih jauh!

Hidup Good Cop Bad Cop!